Kisah tiga negara(三國志) adalah salah satu kisah terpopuler yang diangkat dari catatan sejarah Tiongkok kuno, dimana kisah tersebut menceritakan rentetan peristiwa pasca akhir pemerintahan dinasti Han timur(漢朝) hingga berdirinya pemerintahan dinasti Jin barat(西晉).
Pada masa itu adalah masa pergolakan yang menarik untuk dijadikan pembelajaran, dimana pemerintahan Tiongkok kuno terbagi menjadi tiga kekuasaan pemerintahan yang saling bersaing satu sama lain dengan tujuan untuk tampil sebagai penguasa tunggal [konflik politik antara negara Cao Wei(曹魏国) dengan negara Shu Han(蜀漢国), dan negara Dong Wu(東吳国)].
Latar belakang
Setelah mengecap kejayaan selama 8 generasi, pada akhirnya pemerintahan dinasti Han timur(漢朝) mulai mengalami masa kemunduran, tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Huan(桓帝) (146M - 168M). Hal itu karena Kaisar tidak becus dalam menjalankan pemerintahan, sehingga korupsi dan kesewenangan tugas jabatan kian menjamur di kalangan pejabat pemerintahan pusat hingga daerah. Kondisi semakin memburuk setelah Kaisar memberikan kewenangan kepada para pejabat pelayan istana (yang didominasi oleh para kasim istana) untuk turut campur dalam urusan pemerintahan.
Pemberontakan sorban kuning
Karena semakin buruknya pemerintahan Han timur, maka kondisi tersebut menimbulkan penderitaan rakyat, sehingga memicu banyak pemberontakan di sejumlah daerah, dimana salah satu pemberontakan dalam skala besar terjadi pada tahun 184 Masehi, yang dipimpin oleh Zhang Jue(張角). Pemberontakan masif tersebut dikenal dengan sebutan pemberontakan Sorban kuning(黃巾之亂).
Dalam upaya untuk memadamkan aksi pemberontakan masif tersebut, pada akhirnya pemerintah pusat Han timur(漢朝) merekrut sejumlah besar pasukan milisi dari seluruh pelosok wilayah. Sejak saat itu, mulai muncul sederet nama tokoh berpengaruh yang kelak akan berkontribusi dalam terbentuknya tiga pemerintahan negara. Beberapa nama tokoh bepengaruh tersebut, antara lain: Sun Jian(孫堅), Cao Cao(曹操), Gongsun Zan(公孙瓒), Liu Bei(劉備), dan lainnya.
Akhir dominasi Kasim istana
Meskipun pemberontakan Sorban kuning(黃巾之亂) telah berhasil diredam, namun kemelut dalam pemerintahan Han timur(漢朝) semakin memanas setelah wafatnya Kaisar Ling(靈帝) pada tahun 189. Hal itu terjadi karena adanya perseteruan antara 10 kasim istana(十常侍) dengan He Jin(何進)[Panglima tinggi(大将军)] dalam upaya untuk mengendalikan pemerintah pusat melalui Kaisar penerus, dimana He Jin(何進) memberikan perlindungan kepada Kaisar Shou(少帝) [pewaris tahta resmi], sedangkan para kasim istana(十常侍) lebih mendukung Pangeran Liu Xie(劉協) sebagai pewaris tahta.
Perseteruan tersebut akhirnya berujung pada tewasnya He Jin(何進), sehingga memprovokasi koalisi para Jenderal yang dipimpin oleh Yuan Shao(袁绍) untuk menduduki ibukota/istana, serta melancarkan serangan/ pembantaian terhadap kasim istana(十常侍) dan seluruh pengikutnya .
Di tengah kekacauan, maka Dong Zhuo(董卓) berinisiatif memanfaatkan kondisi tersebut untuk menduduki istana, dan mengukuhkan diri sebagai Perdana menteri(丞相) dengan melengserkan Kaisar Shou(少帝) dari tahta resmi, dan kemudian melantik Liu Xie(劉協) sebagai penerus tahta dengan gelar sebagai Kaisar Xian(獻帝).
Dominasi Dong Zhuo
Karena kelaliman Dong Zhuo(董卓), maka terbentuklah koalisi anti Dong Zhuo [Guandong coalition(關東聯軍)] yang dipimpin oleh Yuan Shao(袁绍) pada tahun 190, sehingga memicu sejumlah perseteruan antara pasukan koalisi dengan pasukan pemerintah pusat Han timur(漢朝) sepanjang tahun 190 hingga tahun 191.
Pada akhirnya Dong Zhuo(董卓) memindahkan secara paksa pusat pemerintahan ke kota Chang'an(長安) setelah terdesak oleh pasukan koalisi dibawah komando Sun Jian(孫堅). Namun tak lama kemudian, Koalisi Guandong(關東聯軍) akhirnya dibubarkan karena munculnya konflik dan perseteruan antar anggota koalisi yang saling memperebutkan wilayah-wilayah yang terpisah dari kesatuan pemerintah pusat Han timur(漢朝).
Perseteruan antar penguasa wilayah
Pasca tewasnya Dong Zhuo(董卓) ditangan Lü Bu(呂布), seluruh kekuasaan wilayah di Tiongkok kuno akhirnya terpecah, dimana Yuan Shao(袁绍) tampil sebagai penguasa wilayah terkuat setelah berhasil mengambil alih otoritas provinsi Ji(冀州牧) dari Han Fu(韓馥) dan berhasil menundukkan Gongsun Zan(公孙瓒) dalam pertempuran Jieqiao(界桥之战) pada tahun 191.
Namun ambisi besar Yuan Shao(袁绍) harus terkubur dalam, tatkala Kaisar Xian(獻帝) bersedia menerima perlindungan dari Cao Cao(曹操) dan menetapkan kota Xuchang(許昌) sebagai pusat pemerintahan Han timur(漢朝) yang baru.
Sejak saat itu, pengaruh dan kekuatan politik Cao Cao(曹操) semakin mendominasi jalannya roda pemerintah pusat Han timur(漢朝).
Dominasi Cao Cao
Pada akhirnya Cao Cao(曹操) berhasil menundukkan Yuan Shao(袁绍) dalam pertempuran Guandu(官渡之戰) pada penghujung tahun 200.
Kemudian Cao Cao(曹操) kembali meraih kesuksesan besar dalam kampanye militer penyatuan seluruh wilayah utara Tiongkok antara tahun 200 hingga tahun 207.
Pada saat yang sama, Sun Ce(孙策) telah berhasil sebagai penguasa regional Jiangdong(江东) dengan mengukuhkan berdirinya pemerintahan otonomi Wu(吳), dimana pemerintahan tersebut terus berkembang dan semakin mapan dibawah kepemimpinan Sun Quan(孫權) sebagai pewaris tunggal.
Setelah Cao Cao(曹操) dinobatkan sebagai Perdana menteri pemerintahan Han timur(漢朝丞相), kemudian Cao Cao(曹操) menggelar kembali kampanye militer penyatuan seluruh wilayah selatan Tiongkok pada penghujung tahun 208.
Aliansi Sun - Liu
Tetapi ambisi Cao Cao(曹操) tersebut harus kandas setelah menelan kekalahan telak dari Aliansi kekuatan Sun Quan(孫權) dan Liu Bei(劉備) dalam pertempuran terbesar di Chibi(赤壁之战).
Bahkan Cao Cao(曹操) harus rela melepas sebagian besar wilayah provinsi Jing(荆州) setelah Zhou Yu(周瑜) berhasil menduduki wilayah Nan(南郡), dan Liu Bei(劉備) berhasil menduduki empat wilayah di selatan provinsi Jing(荆州).
Sejak saat itu terbentuklah keseimbangan kekuasaan di Tiongkok kuno, dimana Cao Cao(曹操) mendominasi penuh seluruh wilayah utara Tiongkok, sedangkan Sun Quan(孫權) membina aliansi dengan Liu Bei(劉備) sebagai pihak oposisi penentang dominasi Cao Cao(曹操), dengan mendominasi seluruh wilayah timur dan sebagian wilayah selatan Tiongkok.
Konflik Sun Quan - Liu Bei
Walaupun hubungan aliansi antara Sun Quan(孫權) dan Liu Bei(劉備) tampak harmonis, namun lambat laun muncul ketegangan politik antara mereka karena sengketa otoritas wilayah Nan(南郡) - provinsi Jing(荆州) [ Liu Bei(劉備) tidak bersedia mengembalikan otoritas wilayah tersebut kepada Sun Quan(孫權)].
Puncak peselisihan terjadi pada penghujung tahun 219, tatkala Sun Quan(孫權) memerintahkan Lü Meng(吕蒙) untuk menduduki kembali wilayah Nan(南郡) - provinsi Jing(荆州) melalui agresi militer, tatkala Guan Yu(關羽) melancarkan agresi militer terhadap kota Fan(樊城).
Akibat agresi militer tersebut, maka Liu Bei(劉備) harus kehilangan otoritas wilayah provinsi Jing(荆州) dengan gugurnya Guan Yu(關羽), sehingga Liu Bei(劉備) mengakhiri hubungan aliansi dan menyatakan kondisi perang terhadap Sun Quan(孫權).
Pada tahun 220, Cao Pi(曹丕) mendeklarasikan berdirinya pemerintahan negara Cao Wei(曹魏国) setelah melengserkan Kaisar Xian(獻帝) dari tahta resmi pemerintahan Han timur(漢朝). Sejak saat itu, maka berakhirlah masa pemerintahan dinasti Han timur(漢朝).
Sun Quan(孫權) yang menyadari akan adanya ancaman serangan baru dari dua arah berbeda [ Liu Bei(劉備) dari sisi barat, dan kemungkinan ancaman Cao Pi(曹丕) dari sisi utara], maka ia segera menyatakan pemerintahan otonomi Wu(吳) sebagai negara bagian dari pemerintahan negara Cao Wei(曹魏国) pada tahun 221M sebagai strategi untuk mengantisipasi ancaman.
Pasca mengukuhkan berdirinya negara Shu Han(蜀漢国) pada tahun 220M, kemudian Liu Bei(劉備) melancarkan agresi militer terhadap Sun Quan(孫權) untuk menduduki/ merebut kembali otoritas provinsi Jing(荆州), namun upaya tersebut gagal setelah Liu Bei(劉備) harus menelan kekalahan telak menghadapi pertahanan pasukan Wu(吳) dibawah komando Lu Xun(陸遜) dalam pertempuran Xiaoting(猇亭之戰) pada tahun 222.
Tak lama setelah memenangkan pertempuran Xiaoting(猇亭之戰), Sun Quan(孫權) memutuskan hubungan politik dengan pemerintahan negara Cao Wei(曹魏国), dan kemudian mengukuhkan berdirinya pemerintahan negara Dong Wu(東吳国).
Berdirinya pemerintahan negara Dong Wu(東吳国) sempat memprovokasi Cao Pi(曹丕) untuk melancarkan agresi militer terhadap tiga wilayah otoritas negara Dong Wu(東吳国) antara tahun 222 hingga tahun 223, namun seluruh agresi/ invasi tersebut dapat dibendung oleh pertahanan negara Dong Wu(東吳国).
Masa pemerintahan tiga negara
Selama masa pemerintahan tiga negara(三国时代), yang berlangsung antara tahun 220M hingga tahun 280M, negara Shu Han(蜀漢国) dan negara Dong Wu(東吳国) cenderung bertindak sebagai agresor terhadap otoritas negara Cao Wei(曹魏国). Hal tersebut tercatat, dimana Zhuge Liang(諸葛亮) [kala itu menjabat sebagai Perdana Menteri negara Shu] melancarkan lima rangkaian ekspedisi militer terhadap wilayah otoritas negara Cao Wei(曹魏国) dengan hasil hanya memetik sekali kemenangan.
Hal serupa kerap dilancarkan oleh Sun Quan(孫權) untuk menduduki kota Hefei(合肥城) [salah satu otoritas negara Cao Wei(曹魏国)], namun upaya tersebut mengalamai kegagalan.
Akhir masa pemerintahan tiga negara
Setelah Jiang Wei(姜維) [Panglima tinggi negara Shu] kerap kali mengalami kegagalan dalam upaya melanjutkan ekspedisi militer yang pernah dirintis oleh Zhuge Liang(諸葛亮), pada akhirnya Sima Zhao(司馬昭) [Waliraja negara Cao Wei] menugaskan Zhong Hui(鍾會), Deng Ai(鄧艾) dan Zhuge Xu(諸葛緒) memimpin invasi/ agresi militer terhadap wilayah otoritas negara Shu Han(蜀漢国) dengan tujuan untuk mengakhiri agresi lanjutan dari Jiang Wei(姜維).
Pada akhirnya negara Cao Wei(曹魏国) berhasil menundukkan negara Shu Han(蜀漢国) setelah pasukan yang dipimpin Deng Ai(鄧艾) berhasil menduduki kota Chengdu(成都) [ibukota negara Shu(蜀漢国)] pada tahun 263.
Berdirinya pemerintahan Jin barat(西晉)
Pada tahun 265, Sima Yan(司馬炎) resmi mengukuhkan berdirinya pemerintahan Jin barat(西晉) setelah ia melengserkan Cao Huan(曹奐) dari tahta resmi negara Cao Wei(曹魏国).
Setelah sempat berdampingan selama lima belas tahun, pada akhirnya pemerintah negara Dong Wu(東吳国) harus berakhir setelah pemerintahan Jin barat(西晉) berhasil menundukkan negara Dong Wu(東吳国) melalui invasi - agresi militer pada tahun 280.
Sejak berakhirnya masa pemerintahan negara Dong Wu(東吳国), maka Tiongkok kuno berada dibawah satu otoritas pemerintahan Jin barat(西晉).
Tercatat bawah masa pemerintahan Jin barat(西晉) berlangsung antara tahun 266 hingga tahun 420.
---000---
Sumber: Wikipedia

Komentar
Posting Komentar