Latar belakang
Pasca menundukkan Yuan Shao (袁紹) dan menduduki hampir seluruh wilayah di Tiongkok utara, kemudian Cao Cao (曹操) menggelar kembali kampanye militer ke wilayah Tiongkok selatan dengan atas nama kaisar Xian (獻帝) pada bulan ke-tujuh tahun 208.
Kampanye militer tersebut mendesak Liu Cong (刘琮), Gubernur propinsi Jing (荆州牧) menyerah tanpa memberikan perlawanan. Sedangkan Liu Bei (劉備) harus meninggalkan kota Fancheng (樊城) untuk menyingkir ke wilayah yang lebih aman di sisi selatan wilayah propinsi Jing (荆州) beserta dengan sejumlah besar pengungsi rakyat sipil [diperkirakan mencapai sekitar 100 ribu jiwa].
Pada akhirnya Liu Bei dan pengikut setianya, serta konvoi pengungsi dapat tiba dan berlindung di kota Xiakou (夏口), wilayah Jiangxia (江夏郡) setelah sempat disergap oleh pasukan Cao Cao di daerah Changban (長坂), wilayah Dangyang (当阳郡), dimana dalam penyergapan tersebut [dikenal juga sebagai peristiwa pertempuran Changban (長坂之戰)] telah menyebabkan banyak korban jiwa dalam pasukan Liu Bei dan pengungsi rakyat sipil.
Setelah menghentikan pengejaran terhadap Liu Bei, Cao Cao lalu menduduki kota Jiangling (江陵), dan menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat komando sementara sebelum melanjutkan agresi militer/invasi terhadap wilayah Jiangdong (江东)/ pemerintah otonomi Wu (东吳) yang dikuasai oleh Sun Quan (孫權).
Tak lama berselang, Lu Su (魯肅) [ahli strategi/ pejabat militer dari pemerintah otonomi Wu] mengunjungi kota Xiakou (夏口) untuk meninjau langsung kondisi Liu Bei.
Pasca menundukkan Yuan Shao (袁紹) dan menduduki hampir seluruh wilayah di Tiongkok utara, kemudian Cao Cao (曹操) menggelar kembali kampanye militer ke wilayah Tiongkok selatan dengan atas nama kaisar Xian (獻帝) pada bulan ke-tujuh tahun 208.
Kampanye militer tersebut mendesak Liu Cong (刘琮), Gubernur propinsi Jing (荆州牧) menyerah tanpa memberikan perlawanan. Sedangkan Liu Bei (劉備) harus meninggalkan kota Fancheng (樊城) untuk menyingkir ke wilayah yang lebih aman di sisi selatan wilayah propinsi Jing (荆州) beserta dengan sejumlah besar pengungsi rakyat sipil [diperkirakan mencapai sekitar 100 ribu jiwa].
Pada akhirnya Liu Bei dan pengikut setianya, serta konvoi pengungsi dapat tiba dan berlindung di kota Xiakou (夏口), wilayah Jiangxia (江夏郡) setelah sempat disergap oleh pasukan Cao Cao di daerah Changban (長坂), wilayah Dangyang (当阳郡), dimana dalam penyergapan tersebut [dikenal juga sebagai peristiwa pertempuran Changban (長坂之戰)] telah menyebabkan banyak korban jiwa dalam pasukan Liu Bei dan pengungsi rakyat sipil.
Setelah menghentikan pengejaran terhadap Liu Bei, Cao Cao lalu menduduki kota Jiangling (江陵), dan menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat komando sementara sebelum melanjutkan agresi militer/invasi terhadap wilayah Jiangdong (江东)/ pemerintah otonomi Wu (东吳) yang dikuasai oleh Sun Quan (孫權).
Tak lama berselang, Lu Su (魯肅) [ahli strategi/ pejabat militer dari pemerintah otonomi Wu] mengunjungi kota Xiakou (夏口) untuk meninjau langsung kondisi Liu Bei.
Dalam kunjungan tersebut, Lu Su berhasil meyakinkan Liu Bei untuk berkoalisi dengan Sun Quan (孫權) dalam upaya membendung invasi Cao Cao. Pada akhirnya Liu Bei menyetujui usulan tersebut, dan mengutus Zhuge Liang (諸葛亮) mengunjungi Sun Quan di kota Chaisang(柴桑) dengan tujuan mengusung kerjasama/koalisi menghadapi ancaman invasi Cao Cao.
Setibanya seluruh pasukan Cao Cao di kota Jiangling (江陵), Jia Xu (賈詡) [ahli strategi/ penasihat utama yang mendampingi Cao Cao selama berlangsungnya kampanye] sempat menghimbau agar Cao Cao menunda sementara rencana agresi militer/ invasi terhadap wilayah otoritas Sun Quan, karena kekuatan pasukan yang masih belum pulih, serta butuh penyesuaian dengan kondisi medan pertempuran yang masih baru. Namun nasihat tersebut tidak digubris oleh Cao Cao.
Koalisi Sun-Liu terbentuk
Setibanya Zhuge Liang di kota Chaisang(柴桑), bertepatan dengan kedatangan utusan Cao Cao yang mengantarkan “surat peringatan” kepada Sun Quan, yang berisi tuntutan secara paksa penyerahan pemerintahan otonomi Wu (东吳) kepada pemerintah pusat resmi Han (漢朝) atas nama kaisar Xian (獻帝) [yang dikendalikan secara langsung oleh Cao Cao].
Tuntutan tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan sikap pro kontra antar pejabat dalam pemerintahan otonomi Wu. Zhang Zhao (张昭) mewakili sejumlah pejabat yang takut kepada ancaman Cao Cao, menghimbau Sun Quan untuk menyerah/ tunduk kepada Cao Cao. Namun Zhou Yu (周瑜), Lu Su, dan sejumlah pejabat lain menghimbau untuk melakukan perlawanan terhadap Cao Cao.
Lu Su dan Zhuge Liang berupaya membujuk Sun Quan bekerjasama dengan Liu Bei dan Liu Qi untuk membendung agresi militer/invasi Cao Cao.
Pada akhirnya Sun Quan menyetujui kerjasama/koalisi tersebut, lalu menunjuk Zhou Yu sebagai panglima besar (大將軍) dengan didampingi Cheng Pu (程普) dan Lu Su untuk memimpin pasukan Wu membendung serangan pasukan Cao Cao di daerah Chibi (赤壁).
Analisa Zhou Yu terhadap kekuatan pasukan Cao Cao
Dalam propaganda, Cao Cao memberi pernyataan akan mengerahkan kekuatan 800 ribu pasukan, tetapi Zhou Yu yakin dapat menghadapi pasukan Cao Cao, walau dengan jumlah 30 ribu pasukan Wu ditambah dukungan 20 ribu pasukan Liu Bei-Liu Qi.
Keyakinan Zhou Yu tersebut berdasarkan berita dari mata-mata, bahwa kekuatan pasukan Cao Cao sesungguhnya tidak melebihi 230 ribu prajurit, yang sebagian besar tidak berpengalaman dalam “pertempuran air” [pertempuran dengan menggunakan kapal perang], serta rentan terhadap ancaman wabah penyakit sub tropis. Meskipun sekitar 80 ribu prajurit dalam pasukan Cao Cao adalah mantan pasukan Liu Biao [merupakan pasukan marinir yang berpengalaman dalam pertempuran air], namun Zhou Yu yakin bahwa mereka tidak memiliki moral tempur dan kesetiaan yang tinggi kepada Cao Cao.
Zhou Yu juga telah mempelajari, bahwa kekuatan pasukan Cao Cao pada saat itu tidak didukung/ dampingi langsung oleh para jenderal/ komandan andalan terbaiknya, karena diyakini Cao Cao telah menugaskan mereka untuk mempertahankan beberapa wilayah strategis di propinsi Jing (荆州).
Pertempuran di Chibi (赤壁之战)
Pada awal musim dingin tahun 208, Cao Cao akhirnya menggerakkan seluruh pasukannya dari kota Jiangling (江东) menuju daerah Wulin (烏林) melalui jalur sungai dan darat, dan menempatkan mereka di tepi sungai Yangtze (揚子江), dipersiapkan untuk melancarkan serangan terhadap pertahanan pasukan Wu yang berada di seberang sungai.
Pada saat yang sama, Liu Bei telah mengirim pasukannya ke kota Fankou (樊口) untuk memberikan dukungan kepada pasukan Wu.
Cao Cao sempat mengirim sejumlah pasukannya menyeberangi sungai Yangtze (揚子江) untuk melancarkan serangan, namun serangan awal pasukan Cao Cao tersebut dapat dipatahkan oleh pasukan Wu.
Kondisi petempuran sempat pasif selama beberapa hari setelah pertempuran tersebut berakhir.
Cao Cao menyadari bahwa sebagian besar pasukannya tidak berpengalaman dalam “pertempuran air”, bahkan pasukannya mulai menghadapi masalah “mabuk laut”, sehingga Cao Cao memerintahkan untuk mengikat-satukan seluruh kapal perang dengan rantai besar sebagai solusi mengatasi masalah tersebut.
Siasat “serangan api” Huang Gai
Kondisi yang dihadapi pasukan Cao Cao diketahui oleh Huang Gai (黃蓋) [salah seorang komandan senior pasukan Wu], sehingga ia menyampaikan usul kepada Zhou Yu untuk melakukan “serangan api” terhadap armada perang Cao Cao, serta mengajukan diri untuk memimpin penyerangan tersebut dengan bersiasat seakan hendak membelot ke kubu Cao Cao.
Cao Cao sempat menaruh curiga saat menerima surat penyerahan dari Huang Gai, namun Cao Cao terlambat mengantisipasi setelah 10 mengchong (蒙衝) dan doujian (鬬艦) [sebutan untuk kapal perang pada masa itu] yang dipimpin Huang Gai telah berlayar mendekati jajaran kapal perang Cao Cao.
Ketika 10 mengchong dan doujian [yang sarat bermuatan penuh aneka bahan yang mudah terbakar] hampir merapat dengan kecepatan penuh oleh tiupan angin dari arah tenggara, Huang Gai dan seluruh awak kapal/pasukan segera membakar seluruh isi muatan kapal, dan lalu meloloskan diri dengan beberapa zouges (走舸) [sejenis perahu kecil ].
10 mengchong dan doujian yang terbakar akhirnya menabrak jajaran kapal perang pasukan Cao Cao, sehingga menimbulkan ledakan dan kerusakan parah. Peristiwa tersebut menyebabkan jatuh banyak korban jiwa dalam pasukan Cao Cao.
Menyambut keberhasilan misi Huang Gai, Zhou Yu segera mengerahkan seluruh pasukan/ armada perang menyeberangi sungai Yangtze (揚子江) untuk melancarkan serangan frontal terhadap posisi pasukan Cao Cao. Serangan tersebut juga didukung oleh armada perang pasukan Liu Bei yang berlayar dari Xiakou (夏口) dan Fankou (樊口).
Kekalahan Cao Cao dan akhir pertempuran
Serangan mendadak tersebut menyebabkan pasukan Cao Cao tercerai berai dan menderita kerusakan parah. Setelah menyadari bahwa barisan pasukannya tidak dapat disatukan kembali untuk melancarkan serangan balik, Cao Cao segera memerintahkan pemusnahan seluruh sisa kapal perang yang masih utuh, dan lalu memberikan perintah penarikan mundur kepada sisa pasukannya untuk kembali ke kota Jiangling (江东) dengan perjalanan darat.
Saat mengetahui Cao Cao menarik mundur pasukannya dari daerah Wulin (烏林), Sun Quan segera menugaskan Zhou Yu [dengan didukung pasukan Liu Bei] untuk melakukan pengejaran terhadap pasukan Cao Cao.
Pada saat yang sama, Sun Quan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memimpin langsung agresi militer/ invasi terhadap wilayah Jiujiang (九江郡).
Di tengah perjalanan mundur, laju pasukan Cao Cao sempat terhambat di daerah Huarong (華容道), dimana sepanjang jalan di daerah tersebut [merupakan daerah yang penuh rawa-rawa] tergenang oleh banjir air dan lumpur yang dalam [oleh akibat curah hujan yang lebat pada saat itu]. Cao Cao lalu memerintahkan pasukan infantri untuk menimbun rumput dan alang-alang kering di sepanjang lintasan yang akan dilalui, agar mempermudah laju kuda dan kereta perang. Dalam persitiwa tersebut, banyak jumlah pasukan infantri yang gugur akibat terlelap dan terinjak dalam genangan air lumpur yang dalam.
Setibanya di kota Jiangling (江东), Cao Cao melanjutkan kembali perjalanannya ke kota Xiangyang (襄陽), dan kemudian berlanjut menuju kembali ke kota Ye (鄴). Sebelum meninggalkan wilayah propinsi Jing (荆州), Cao Cao mempercayakan pertahanan kota Jiangling (江陵) kepada Cao Ren (曹仁) dan Xu Huang (徐晃), lalu kota Xiangyang (襄陽) dipertahankan oleh Yue Jin (乐进), kemudian pertahanan kota Dangyang (当阳) dipercayakan kepada Man Chong (满宠), dan mempercayakan pengawasan dan pertahanan wilayah Jiangxia (江夏) kepada Wen Ping (文聘).
Gabungan pasukan Zhou Yu dan pasukan Liu Bei yang melakukan pengejaran terhadap perjalanan mundur pasukan Cao Cao, akhirnya tertahan di kota Jiangling (江陵) wilayah Nan (南郡). Pertempuran panjang antara pasukan Wu/ Zhou Yu dengan pasukan Cao Ren tak dapat dihindarkan.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai pertempuran Jiangling (江陵之战) [merupakan kelanjutan dari pertempuran Chibi (赤壁之战)].
Sejarah mencatat bahwa kekalahan telak yang dialami Cao Cao dalam pertempuran di Chibi, karena Cao Cao telah dibutakan oleh ambisinya [tidak mempertimbangkan saran dan petunjuk para penasihatnya], serta meremehkan kekuatan koalisi pasukan Sun Quan-Liu Bei.
Untuk mempertanggung jawabkan dan menutupi kegagalannya, Cao Cao memberi pernyataan bahwa kekalahannya hanya disebabkan “kurang keberuntungan”, dimana pasukannya hanya dikalahkan oleh serangan wabah penyakit yang hebat, sehingga ia memberikan perintah untuk menarik mundur seluruh pasukannya dengan disertai pembakaran seluruh armada perangnya agar tidak jatuh ke tangan pasukan Zhou Yu. Pernyataan tersebut merupakan propaganda yang dilakukan Cao Cao untuk menutupi kekalahannya dari Zhou Yu.
Disusun dan terjemahkan ulang oleh Agust DZ
Setibanya seluruh pasukan Cao Cao di kota Jiangling (江陵), Jia Xu (賈詡) [ahli strategi/ penasihat utama yang mendampingi Cao Cao selama berlangsungnya kampanye] sempat menghimbau agar Cao Cao menunda sementara rencana agresi militer/ invasi terhadap wilayah otoritas Sun Quan, karena kekuatan pasukan yang masih belum pulih, serta butuh penyesuaian dengan kondisi medan pertempuran yang masih baru. Namun nasihat tersebut tidak digubris oleh Cao Cao.
Koalisi Sun-Liu terbentuk
Setibanya Zhuge Liang di kota Chaisang(柴桑), bertepatan dengan kedatangan utusan Cao Cao yang mengantarkan “surat peringatan” kepada Sun Quan, yang berisi tuntutan secara paksa penyerahan pemerintahan otonomi Wu (东吳) kepada pemerintah pusat resmi Han (漢朝) atas nama kaisar Xian (獻帝) [yang dikendalikan secara langsung oleh Cao Cao].
Tuntutan tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan sikap pro kontra antar pejabat dalam pemerintahan otonomi Wu. Zhang Zhao (张昭) mewakili sejumlah pejabat yang takut kepada ancaman Cao Cao, menghimbau Sun Quan untuk menyerah/ tunduk kepada Cao Cao. Namun Zhou Yu (周瑜), Lu Su, dan sejumlah pejabat lain menghimbau untuk melakukan perlawanan terhadap Cao Cao.
Lu Su dan Zhuge Liang berupaya membujuk Sun Quan bekerjasama dengan Liu Bei dan Liu Qi untuk membendung agresi militer/invasi Cao Cao.
Pada akhirnya Sun Quan menyetujui kerjasama/koalisi tersebut, lalu menunjuk Zhou Yu sebagai panglima besar (大將軍) dengan didampingi Cheng Pu (程普) dan Lu Su untuk memimpin pasukan Wu membendung serangan pasukan Cao Cao di daerah Chibi (赤壁).
Analisa Zhou Yu terhadap kekuatan pasukan Cao Cao
Dalam propaganda, Cao Cao memberi pernyataan akan mengerahkan kekuatan 800 ribu pasukan, tetapi Zhou Yu yakin dapat menghadapi pasukan Cao Cao, walau dengan jumlah 30 ribu pasukan Wu ditambah dukungan 20 ribu pasukan Liu Bei-Liu Qi.
Keyakinan Zhou Yu tersebut berdasarkan berita dari mata-mata, bahwa kekuatan pasukan Cao Cao sesungguhnya tidak melebihi 230 ribu prajurit, yang sebagian besar tidak berpengalaman dalam “pertempuran air” [pertempuran dengan menggunakan kapal perang], serta rentan terhadap ancaman wabah penyakit sub tropis. Meskipun sekitar 80 ribu prajurit dalam pasukan Cao Cao adalah mantan pasukan Liu Biao [merupakan pasukan marinir yang berpengalaman dalam pertempuran air], namun Zhou Yu yakin bahwa mereka tidak memiliki moral tempur dan kesetiaan yang tinggi kepada Cao Cao.
Zhou Yu juga telah mempelajari, bahwa kekuatan pasukan Cao Cao pada saat itu tidak didukung/ dampingi langsung oleh para jenderal/ komandan andalan terbaiknya, karena diyakini Cao Cao telah menugaskan mereka untuk mempertahankan beberapa wilayah strategis di propinsi Jing (荆州).
Pertempuran di Chibi (赤壁之战)
Pada awal musim dingin tahun 208, Cao Cao akhirnya menggerakkan seluruh pasukannya dari kota Jiangling (江东) menuju daerah Wulin (烏林) melalui jalur sungai dan darat, dan menempatkan mereka di tepi sungai Yangtze (揚子江), dipersiapkan untuk melancarkan serangan terhadap pertahanan pasukan Wu yang berada di seberang sungai.
Pada saat yang sama, Liu Bei telah mengirim pasukannya ke kota Fankou (樊口) untuk memberikan dukungan kepada pasukan Wu.
Cao Cao sempat mengirim sejumlah pasukannya menyeberangi sungai Yangtze (揚子江) untuk melancarkan serangan, namun serangan awal pasukan Cao Cao tersebut dapat dipatahkan oleh pasukan Wu.
Kondisi petempuran sempat pasif selama beberapa hari setelah pertempuran tersebut berakhir.
Cao Cao menyadari bahwa sebagian besar pasukannya tidak berpengalaman dalam “pertempuran air”, bahkan pasukannya mulai menghadapi masalah “mabuk laut”, sehingga Cao Cao memerintahkan untuk mengikat-satukan seluruh kapal perang dengan rantai besar sebagai solusi mengatasi masalah tersebut.
Siasat “serangan api” Huang Gai
Kondisi yang dihadapi pasukan Cao Cao diketahui oleh Huang Gai (黃蓋) [salah seorang komandan senior pasukan Wu], sehingga ia menyampaikan usul kepada Zhou Yu untuk melakukan “serangan api” terhadap armada perang Cao Cao, serta mengajukan diri untuk memimpin penyerangan tersebut dengan bersiasat seakan hendak membelot ke kubu Cao Cao.
Cao Cao sempat menaruh curiga saat menerima surat penyerahan dari Huang Gai, namun Cao Cao terlambat mengantisipasi setelah 10 mengchong (蒙衝) dan doujian (鬬艦) [sebutan untuk kapal perang pada masa itu] yang dipimpin Huang Gai telah berlayar mendekati jajaran kapal perang Cao Cao.
![]() |
| the menchong (illustration) |
![]() |
| the battle of Chibi (赤壁之战) |
Menyambut keberhasilan misi Huang Gai, Zhou Yu segera mengerahkan seluruh pasukan/ armada perang menyeberangi sungai Yangtze (揚子江) untuk melancarkan serangan frontal terhadap posisi pasukan Cao Cao. Serangan tersebut juga didukung oleh armada perang pasukan Liu Bei yang berlayar dari Xiakou (夏口) dan Fankou (樊口).
Kekalahan Cao Cao dan akhir pertempuran
Serangan mendadak tersebut menyebabkan pasukan Cao Cao tercerai berai dan menderita kerusakan parah. Setelah menyadari bahwa barisan pasukannya tidak dapat disatukan kembali untuk melancarkan serangan balik, Cao Cao segera memerintahkan pemusnahan seluruh sisa kapal perang yang masih utuh, dan lalu memberikan perintah penarikan mundur kepada sisa pasukannya untuk kembali ke kota Jiangling (江东) dengan perjalanan darat.
![]() |
| Map-scheme the battle of Chibi |
Saat mengetahui Cao Cao menarik mundur pasukannya dari daerah Wulin (烏林), Sun Quan segera menugaskan Zhou Yu [dengan didukung pasukan Liu Bei] untuk melakukan pengejaran terhadap pasukan Cao Cao.
Pada saat yang sama, Sun Quan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memimpin langsung agresi militer/ invasi terhadap wilayah Jiujiang (九江郡).
Di tengah perjalanan mundur, laju pasukan Cao Cao sempat terhambat di daerah Huarong (華容道), dimana sepanjang jalan di daerah tersebut [merupakan daerah yang penuh rawa-rawa] tergenang oleh banjir air dan lumpur yang dalam [oleh akibat curah hujan yang lebat pada saat itu]. Cao Cao lalu memerintahkan pasukan infantri untuk menimbun rumput dan alang-alang kering di sepanjang lintasan yang akan dilalui, agar mempermudah laju kuda dan kereta perang. Dalam persitiwa tersebut, banyak jumlah pasukan infantri yang gugur akibat terlelap dan terinjak dalam genangan air lumpur yang dalam.
Setibanya di kota Jiangling (江东), Cao Cao melanjutkan kembali perjalanannya ke kota Xiangyang (襄陽), dan kemudian berlanjut menuju kembali ke kota Ye (鄴). Sebelum meninggalkan wilayah propinsi Jing (荆州), Cao Cao mempercayakan pertahanan kota Jiangling (江陵) kepada Cao Ren (曹仁) dan Xu Huang (徐晃), lalu kota Xiangyang (襄陽) dipertahankan oleh Yue Jin (乐进), kemudian pertahanan kota Dangyang (当阳) dipercayakan kepada Man Chong (满宠), dan mempercayakan pengawasan dan pertahanan wilayah Jiangxia (江夏) kepada Wen Ping (文聘).
Gabungan pasukan Zhou Yu dan pasukan Liu Bei yang melakukan pengejaran terhadap perjalanan mundur pasukan Cao Cao, akhirnya tertahan di kota Jiangling (江陵) wilayah Nan (南郡). Pertempuran panjang antara pasukan Wu/ Zhou Yu dengan pasukan Cao Ren tak dapat dihindarkan.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai pertempuran Jiangling (江陵之战) [merupakan kelanjutan dari pertempuran Chibi (赤壁之战)].
Sejarah mencatat bahwa kekalahan telak yang dialami Cao Cao dalam pertempuran di Chibi, karena Cao Cao telah dibutakan oleh ambisinya [tidak mempertimbangkan saran dan petunjuk para penasihatnya], serta meremehkan kekuatan koalisi pasukan Sun Quan-Liu Bei.
Untuk mempertanggung jawabkan dan menutupi kegagalannya, Cao Cao memberi pernyataan bahwa kekalahannya hanya disebabkan “kurang keberuntungan”, dimana pasukannya hanya dikalahkan oleh serangan wabah penyakit yang hebat, sehingga ia memberikan perintah untuk menarik mundur seluruh pasukannya dengan disertai pembakaran seluruh armada perangnya agar tidak jatuh ke tangan pasukan Zhou Yu. Pernyataan tersebut merupakan propaganda yang dilakukan Cao Cao untuk menutupi kekalahannya dari Zhou Yu.
---000---
Disusun dan terjemahkan ulang oleh Agust DZ
Sumber: Wikipedia



Komentar
Posting Komentar