Lu Xun (陸遜) (183–245) Ahli strategi, Perdana menteri - panglima pasukan negara Dong Wu

Awal riwayat
Dengan nama panggilan Boyan(伯言), Lu Xun(陸遜) adalah ahli strategi yang mengabdi kepada pemerintahan Wu(東吳), dimana ia adalah salah seorang pejabat kepercayaan dan paling diandalkan oleh Sun Quan(孫權) dalam urusan pemerintahan negara ataupun urusan militer.

Tercatat bahwa ia bernama Lu Yi(陸議) pada usia belia, namun kemudian diganti dengan nama Lu Xun(陸遜) [tidak tercatat mengapa nama tersebut berubah], dimana kecerdasan, bakat dan talenta yang dimilikinya telah terlihat sejak usia belia. 

Lu Xun berasal dari kota/ wilayah Wu(吳郡), dimana ia dibesarkan di tengah keluarga yang terpandang, karena kakeknya [bernama Lu Yu(陸紆)], dan ayahnya [bernama Lu Jun(陸駿)] adalah mantan pejabat tinggi resmi pemerintahan Han timur. Tetapi Lu Xun telah yatim piatu sejak usia belia, sehingga ia di asuh oleh Lu Kang(陆康) [adik dari kakeknya yang pada saat itu menjabat sebagai kepala wilayah Lujiang(廬江郡太守)].
Pada saat terjadi ketegangan antara Lu Kang(陆康) dengan Yuan Shu(袁术)[penguasa wilayah Huainan (淮河)]. Demi untuk keselamatan, Lu Kang segera mengungsikan seluruh anggota keluarganya (termasuk Lu Xun) kembali ke kota Wu. 

Pasca wafatnya Lu Kang(陆康), Lu Xun mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga, karena usia Lu Ji(陆绩) [putra sulung dari Lu Kang(陆康) terpaut lima tahun lebih muda dari usia Lu Xun.

Awal karir
Pada saat berusia 20 tahun (sekitar tahun 203), Lu Xun mengawali karir dalam pemerintah otonomi Wu(吳) dengan jabatan sebagai Pengawas administrasi(東西曹令史), dan juga sebagai Komandan sistem agraris tuntian di daerah Haichang(海昌屯田都尉).

Ketika musim kemarau panjang melanda seluruh wilayah di regional Jiangdong(江东), Lu Xun membuka lumbung penyimpanan beras untuk dibagikan kepada rakyat, dimana Lu Xun memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan pencatatan sensus penduduk di wilayah Wu hingga wilayah Kuaiji dan wilayah Danyang.
Berkat upaya tersebut, pemerintah otonomi Wu(
) berhasil memperoleh penambahan data jumlah penduduk wajib pajak, serta jumlah penduduk usia produktif yang berpotensi bagi pemerintah otonomi Wu(吳) [baik dalam bidang militer, ataupun bidang sipil].

Ketika gerombolan penyamun asal suku Shanyue(山越) [yang dipimpin oleh Pan Lin(潘临)] menimbulkan kekacauan di wilayah Kuaji, Lu Xun berinisiatif menghimpun sekitar 2 ribu pasukan milisi untuk menghadapi gerombolan penyamun tersebut.
Setelah kekacauan di wilayah Kuaiji mereda, kemudian pasukan milisi yang dipimpin Lu Xun juga turut berpartisipasi menumpas para gerombolan penyamun yang dipimpin oleh You Tu (尤突) di daerah Poyang(鄱陽). Atas jasa dan prestasinya, maka Lu Xun memperoleh promosi jabatan setara dengan Kolonel (定威校尉), dan ditugaskan sebagai komandan pertahanan daerah Lipu(利浦).

Saran dan petunjuk untuk Sun Quan
Pada awal masa pemerintahan Sun Quan, beberapa daerah otoritas pemerintahan Wu
 kerap kali diresahkan oleh aksi pemberontakan. 
Menyikapi kondisi tersebut, Lu Xun sempat menyampaikan saran dan petunjuk kepada Sun Quan untuk segera mengakhiri segala bentuk aksi pemberontakan di seluruh wilayah otoritas Wu(吳) agar tidak menjadi batu sandungan dalam mewujudkan cita cita penyatuan seluruh Tiongkok.
Sun Quan sependapat dengan nasihat tersebut, dan lalu menunjuk Lu Xun sebagai Komandan pasukan kanan(右部督), dengan tugas mewujudkan keamanan dan ketentraman di seluruh wilayah otoritas Wu(吳). 

Kontribusi dalam menenteramkan wilayah Wu          
Suatu ketika, Cao Cao mengirimkan “uang suap" kepada Fei Zhan(費棧)[salah seorang pemimpin penyamun asal wilayah Danyang (丹陽郡)] untuk menimbulkan 
keresahan di wilayah otonomi Wu dengan memprovokasi suku Shanyue. 
Sun Quan segera menanggapi kondisi tersebut dengan menugaskan Lu Xun untuk mengatasi kekacauan tersebut. Walaupun kekuatan pasukan Fei Zhan lebih besar daripada pasukan Lu Xun, namun pasukan Fei Zhan berhasil dikalahkan setelah Lu Xun menyiasati keberadaan dan jumlah pasukannya.

Kemudian Lu Xun menugaskan bawahannya untuk membentuk pasukan milisi dengan merekrut dan melatih sukarelawan dari rakyat sipil di tiga daerah di sisi timur wilayah Jiangdong(江东). Dalam waktu singkat, Lu Xun telah berhasil menghimpun sekitar 10 ribu kekuatan pasukan. Lalu Lu Xun menetapkan daerah Wuhu(芜湖) sebagai pusat komando pasukan tersebut seiring dengan meredanya aksi pemberontakan di sejumlah daerah secara berkala.

Konflik internal dengan Chunyu Shi
Pada suatu ketika Sun Quan menerima pengaduan dari Chunyu Shi (淳于式)[Kepala wilayah Kuaiji(會稽郡太守) tentang tindakan pasukan Lu Xun telah kerap mengganggu ketentraman rakyat di wilayah Kuaiji(會稽郡). Saat Sun Quan meminta pertanggung jawaban Lu Xun terkait pengaduan tersebut, Lu Xun tidak menyudutkan Chunyu Shi (淳于式), melainkan ia memberikan pujian atas seluruh kontribusi dan dedikasi yang telah diberikan Chunyu Shi(淳于式) dalam menjalankan tugasnya sebagai pejabat wilayah. 
Menyikapi pertanggung jawaban Lu Xun tersebut, Sun Quan memuji kearifan dan sikap moral yang dimiliki oleh Lu Xun.

Perselisihan Sun Quan dengan Liu Bei
Pada tahun 215, ketegangan politik antara Sun Quan dengan Liu Bei(劉備) semakin memanas setelah Liu Bei tidak bersedia mengembalikan otoritas wilayah Nan(南郡) kepada Sun Quan, pasca keberhasilan Liu Bei menduduki provinsi Yi(益州).


Ketika Guan Yu(關 羽) memimpin agresi - pengepungan terhadap kota Fan/ Fancheng(樊城) [pada saat itu sedang dipertahankan oleh Cao Ren(曹仁)], Lü Meng(吕蒙) segera menghadap Sun Quan untuk mendiskusikan rencana invasi militer terhadap wilayah Nan(南郡) - provinsi Jing(荆州). Saat dalam diskusi tersebut, Lü Meng(吕蒙) [yang sedang dalam kondisi sakit] sempat merekomendasikan Lu Xun sebagai calon pengganti posisinya sebagai Komandan pertahanan di wilayah perbatasan dengan jabatan setara Letnan Jenderal(偏將軍).
Rekomendasi dari Lü Meng(吕蒙) tersebut  akhirnya mendapat persetujuan Sun Quan. 

Setelah ditunjuk sebagai calon Komandan pertahanan untuk melanjutkan wewenang dan tugas Lü Meng(吕蒙), kemudian Lu Xun segera menuju ke daerah Lu Kou(陸口).

Setibanya Lu Xun di Lukou(陸口), Lu Xun segera mengirimkan surat kepada Guan Yu(關羽) dengan tujuan sebagai siasat untuk mengalihkan perhatiannya, sehingga pasukan yang dipimpin Lü Meng(吕蒙) dapat menduduki wilayah Nan(南郡) - provinsi Jing(荆州) dengan leluasa.
Pada akhirnya pasukan Lü Meng(吕蒙) berhasil menduduki  kota Gong'an (公安) dan kota Jiangling(江陵)[pusat pemerintahan wilayah Nan(南郡)] setelah melumpuhkan seluruh menara jaga di sepanjang tepi sungai Yangtse tanpa sepengetahuan Guan Yu(關羽).
 
Pada saat yang sama, Lu Xun memimpin sejumlah pasukan melancarkan pengepungan terhadap pertahanan kota Yidu(宜都) yang dipertahankan oleh Fan You(樊友). Wilayah Yidu(宜都郡) akhirnya berhasil diduduki oleh Lu Xun setelah Fan You(樊友) meninggalkan pertahanan dan melarikan diri ke wilayah provinsi Yi(益州) karena sebagian besar pejabat yang dibawah pimpinannya menyerah. 
Atas prestasi dan kontribusinya, Lu Xun memperoleh gelar kehormatan"Marquis of Hua Village" (華亭侯), dan promosi jabatan dengan gelar “Jenderal penakluk wilayah perbatasan" [General Who Pacifies the Border(撫邊將軍)], serta ditunjuk sebagai kepala wilayah Yidu (宜都郡太守).

Kontribusi dalam menduduki provinsi Jing
Dalam upaya untuk menduduki seluruh daerah dan wilayah di provinsi Jing(荆州), kemudian Lu Xun menugaskan Li Yi(李異) dan Xie Jing(谢旌) memimpin sejumlah pasukan untuk menghadapi pasukan yang dipimpin Zhan Yan(詹晏) dan Chen Feng (陳鳳) [sisa kekuatan pasukan Liu Bei yang masih bertahan di wilayah provinsi Jing(荆州)]. Pada akhirnya sisa kekuatan pasukan Liu Bei tersebut berhasil dikalahkan. Tercatat bahwa Zhan Yan(詹晏) dan sisa pasukannya berhasil lolos menuju wilayah provinsi Yi (益州), namun Chen Feng (陳鳳) tertangkap.
Kemudian pasukan Li Yi(李異) dan Xie Jing(谢旌) berhasil menduduki  kota/ wilayah Fangling(房陵郡) [yang dipertahankan Deng Fu (鄧輔)] dan Nanxiang(南鄉) [yang dipertahankan oleh Guo Mu (郭睦)].

Wen Bu (文布) dan Deng Kai(鄧凱)[ dua tokoh berpengaruh asal daerah Zigui(秭歸), yang juga adalah simpatisan Liu Bei] menghimpun sejumlah besar dukungan asal suku minoritas di daerah Zigui(秭歸). 
Kemudian mereka melancarkan serangan terhadap pertahanan Wu di sisi barat. Lu Xun menanggapi ancaman tersebut dengan menugaskan Xie Jing memimpin sejumlah pasukan untuk membendung agresi serangan tersebut. Pada akhirnya serangan dari pasukan milisi tersebut berhasil dipukul mundur. Dalam peristiwa tersebut, Deng Kai berhasil lolos dan menyelamatkan diri menuju ke wilayah propinsi Yi, sedangkan Wen Bu berhasil dibujuk oleh Lu Xun untuk memihak kepada Sun Quan/pemerintahan Wu.

Saat meninjau penduduk/rakyat sipil di propinsi Jing, Lu Xun menjumpai banyak cendikiawan bertalenta yang tidak diberdayakan. Karena hal tersebut, Lu Xun mengirimkan surat permohonan kepada Sun Quan untuk diijinkan merekrut dan memberdayakan mereka sebagai pejabat dalam pemerintahan Wu. permohonan Lu Xun tersebut akhirnya dipenuhi oleh Sun Quan.    

Atas prestasi dan keberhasilannya menduduki seluruh daerah di wilayah propinsi Jing, Sun Quan kembali menganugerahkan gelar kehormatan"Marquis of Lou" (婁侯) kepada Lu Xun, serta menunjuknya sebagai ”Jenderal pasukan wilayah barat”[General Who Guards the West" (鎮西將軍)] dengan gelar “Pelindung kanan pasukan” [Right Protector of the Army(右護軍)].

Sun Quan melihat potensi yang dimiliki oleh Lu xun, sehingga ia berniat untuk memberikan penghargaan lebih dengan promosi jabatan khusus dalam pemerintahan pusat, namun promosi jabatan tersebut terhalang oleh persyaratan/aturan baku dalam pemerintahan, sehingga Sun Quan memberi perintah kepada Lü Fan [gubernur(州长)propinsi Yang(揚州)] untuk menerima Lu Xun sebagai “Asisten pejabat” [Attendant-Assistant Officer (別駕從事)], dan merekomendasikan Lu Xun sebagai Maocai (茂才)[calon pejabat pemerintah pusat]. Seluruh persyaratan tersebut mutlak dilalui oleh Lu Xun walaupun ia telah menjabat sebagai jenderal pasukan, dan telah menyandang gelar setara bangsawan[marquis].                


Pada awal tahun 222 [2 tahun berlalu setelah kematian Guan Yu, dan keberhasilan Sun Quan mengambil alih kembali propinsi Jing dari Liu Bei], setelah resmi mendirikan negara Shu Han[serta mengukuhkan diri sebagai kaisar pertama], Liu Bei memimpin langsung pasukan (diperkirakan sekitar 40 ribu prajurit) bergerak menyusuri sungai Yangtze menuju ke propinsi Jing, dengan tujuan untuk merebut/menduduki kembali propinsi Jing (serta membalas kematian Guan Yu).


Pada awal pertempuran, Liu Bei sempat memetik kemenangan dengan memukul mundur pasukan Wu yang dipimpin oleh Li Yi (李異) and Liu E (劉阿) lewat serangan pasukan pelopor yang dipimpin oleh Wu Ban(吴班) dan Feng Xi(馮習). Berkat kemenangan tersebut, Liu Bei berhasil menduduki daerah Wu Gorge [Wū Xiá (巫峽)]. Untuk memperkuat pasukannya, Liu Bei menugaskan Ma Liang(馬良) sebagai utusan untuk mendapat dukungan kekuatan dari pasukan milisi asal suku setempat [yang dipimpin oleh Shamoke(沙摩柯)] yang bermukim di daerah Wuxi(五谿)[masih bagian dari wilayah administratif Wuling(武陵)]. Kemenangan untuk Liu Bei terus berlanjut setelah pasukannya berhasil menduduki daerah Zigui(秭归县), Jianping (建平), Lianping (連平) dan Lianwei (連圍), hingga tiba di perbatasan daerah Yiling(夷陵), sehingga kondisi tersebut menyebabkan pasukan Wu harus mundur dan bertahan.


Sebagai respon atas kekalahan di awal pertempuran, Sun Quan lalu menunjuk Lu Xun sebagai Panglima utama(大都督) untuk memimpin 50 ribu prajurit, dan beberapa jenderal/komandan pasukan, antara lain: Zhu Ran(朱然), Pan Zhang(潘璋), Song Qian(宋谦), Han Dang(韩当), Xu Sheng(徐盛), Xianyu Dan(鮮于丹),dan Sun Huan(孙桓).


Pada awalnya Lu Xun sempat mengalami penolakkan dukungan dari para komandan pasukan (terutama yang berusia lebih senior) yang ditugaskan sebagai bawahannya, hal tersebut dikarenakan Lu Xun dinilai masih belum berpengalaman(masih terlalu dini untuk ditunjuk sebagai komandan utama). Lu Xun telah menolak desakan mereka untuk segera menyerang balik terhadap posisi pasukan Liu Bei [Tak lama setelah pasukan negara Shu yang dipimpin oleh Wu Ban(吴班)dan Chen Shi(陳式) berhasil menduduki daerah Yiling]. Alasan Lu Xun menolak, karena pada saat itu moral/ semangat tempur pasukan negara Shu/Liu Bei masih tinggi, dan juga telah menempati lokasi yang lebih strategis (sebagian besar pasukan Liu Bei telah menduduki dataran tinggi di perbukitan). Karena hal tersebut, Lu Xun memberi perintah kepada seluruh komandan pasukannya untuk tetap menjaga kestabilan moral/semangat tempur pasukannya masing-masing, dan  tidak terpancing untuk bertempur menghadapi pasukan musuh secara langsung, selain tetap siaga menunggu adanya peluang baik untuk melancarkan penyerangan balik. Lu Xun sempat mengirimkan surat kepada Sun Quan dengan tujuan untuk memberi laporan kondisi di medan perang, serta keyakinan kepada Sun Quan bahwa strategi menghadapi serangan Liu Bei telah berlangsung sesuai dengan rencana.


Liu Bei berulang kali mengirim pasukannya untuk melakukan provokasi/ memancing pasukan Lu Xun untuk bertempur, namun upaya tersebut selalu gagal, sehingga timbul frustasi dalam pasukan Liu Bei, lalu akhirnya mereka meninggalkan tempat yang telah dipersiapkan sebagai lokasi penyergapan [tepat terjadi sesuai dengan prediksi Lu Xun]. Pertempuran mengalami kejenuhan, karena telah berlangsung hingga 7 bulan. Berbagai masalah telah timbul dalam pasukan Shu/Liu Bei, dua diantaranya adalah hambatan pendistribusian logistik (karena jarak tempuh yang jauh antara propinsi Yi dengan propinsi Jing), dan moral pasukan yang mulai merosot. Seluruh kondisi tersebut telah diprediksi sebelumnya oleh Lu Xun.


Pada akhirnya Lu Xun melihat adanya peluang baik untuk melakukan serangan balik terhadap pasukan Liu Bei, diantaranya adalah dengan memanfaatkan pergantian iklim (memasuki musim panas) yang disertakan dengan merosotnya kondisi moral/semangat tempur pasukan Shu/Liu Bei.


Ketika sebagian besar barak pasukan Liu Bei berada di daerah Yiling, dan menderita akibat kondisi cuaca musim panas, disertai dengan kelembaban udara yang tinggi, sehingga menyebabkan banyak prajurit jatuh sakit. Karena kondisi tersebut, Liu Bei lalu memutuskan untuk memindahkan posisi barak pasukan mendekati rimbunan hutan, dengan tujuan untuk mengatasi keletihan pasukannya (walaupun keputusan dari Liu Bei tersebut sempat dicegah oleh Ma Liang). Lu Xun telah memprediksi hal tersebut, sehingga ia segera menugaskan sekelompok pasukan sabotase untuk menyulut api di sekeliling barak pasukan Liu Bei. Karena iklim yang panas dengan disertai tiupan angin, sehingga kondisi tersebut mendukung penyebaran kobaran api. Akibat meluasnya kobaran api, menyebabkan sebagian besar barak pasukan Liu Bei habis terbakar dan menimbulkan kekacauan.

Saat pasukan Shu berupaya untuk memadamkan/mengatasi kobaran api dalam barak, Lu Xun segera memberi perintah kepada seluruh pasukannya untuk melakukan serangan mendadak terhadap posisi pasukan Shu. Akibat dari serangan tersebut, sebagian besar pasukan Shu tercerai berai dan tewas terbunuh. Dalam peristiwa tersebut, dua orang jenderal pasukan Shu, bernama Zhang Nan(張南) dan Feng Xi (馮習) tewas terbunuh, hal serupa juga dialami oleh Shamoke(沙摩柯)[kepala suku/pemimpin pasukan milisi]. Sebagian lain dari pasukan negara Shu yang terjebak, pada akhirnya menyerah dan ditawan [dari antara prajurit negara Shu yang menyerah, terdapat beberapa personil yang berpangkat perwira menengah. Dua perwira dari antaranya tercatat bernama Du Lu (杜路) dan Liu Ning (劉寧)].

Karena tidak dapat menyatukan kembali sisa pasukan yang terpecah, pada akhirnya Liu Bei beserta dengan sisa pasukan yang masih ada, harus mundur ke perbukitan Ma'an (馬鞍山) untuk menghindari pengejaran pasukan Wu, dan lalu berlanjut ke daerah Yufu, hingga tiba di kota Yong’an. Pengejaran pasukan Wu sempat tertahan di Yong’an karena berhadapan dengan pasukan Shu yang dipimpin oleh Zhao Yun [salah seorang jenderal yang diandalkan oleh Liu Bei] , yang telah terlebih dahulu tiba di kota Yong’an sebagai bantuan pasukan dari kota Jiangzhou (江州). Pada akhirnya pengejaran terhadap Liu Bei dihentikan, Lu Xun lalu menarik mundur pasukannya kembali ke wilayah Wu.

Tak lama kemudian, Liu Bei yang disertai pengawalan dari pasukan Zhao Yun bergerak menuju ke daerah yang lebih aman (kota Baidicheng). Seluruh peristiwa tersebut dikenal dengan pertempuran Yiling(battle of Yiling) atau pertempuran Xiaoting(battle of Xiaoting).

Untuk prestasinya memenangkan pertempuran di Yiling, Sun Quan menunjuk Lu Xun sebagai “Kepala daerah”[Mu(牧)] untuk propinsi Jing, disertai gelar kehormatan "Marquis of Jiangling" (江陵侯), dan jabatan dalam pasukan dengan gelar “Jenderal penolong negara” [General Who Assists the State(輔國將軍)]. Sun Quan juga memuji kearifan yang dimiliki oleh Lu Xun, setelah mengetahui bahwa Lu Xun tidak mempermasalahkan kembali perselisihan yang telah terjadi antara dirinya dengan para jenderal/komandan senior yang diketahui kurang menghargai/mendukung dirinya sebagai komandan utama pasukan(大都督), selama berlangsungnya pertempuran di Yiling.


Setelah mengetahui keberadaan Liu Bei di Baidicheng, beberapa dari jenderal/komandan pasukan Wu (antara lain, seperti: Xu Sheng, Pan Zhang,dan Song Qian) mengusulkan kepada Sun Quan untuk melanjutkan penyerangan ke kota Baidicheng, dengan tujuan untuk menangkap Liu Bei. Namun usulan tersebut ditolak oleh Sun Quan setelah mempertimbangkan pendapat dari Lu Xun, Zhu Ran dan Luo Tong. Keputusan tersebut didukung dengan adanya laporan pasukan pengintai, bahwa telah terjadi pergerakan/manuver tidak lazim dari pasukan negara Cao Wei di wilayah perbatasan(utara). Kecurigaan dan dugaan tersebut menjadi nyata, karena pada akhirnya Cao Pi (曹丕)[kaisar pertama dari negara Cao Wei] mengirimkan pasukannya untuk menyerang wilayah pemerintah otonomi Wu dari 3 lokasi berbeda. serangan invasi tersebut dilakukan tak lama setelah Sun Quan menolak tuntutan Cao Pi untuk mengirimkan Sun Deng(putra mahkota/ putra sulung dari Sun Quan) ke kota Luoyang untuk dijadikan sebagai tahanan politik (sebagai wujud kesetiaan pemerintah otonomi Wu kepada negara Cao Wei).


Serangan invasi dari negara Cao Wei terbagi menjadi tiga penjuru, dimana salah satunya tertuju ke kota Jiangling (pusat pemerintahan wilayah admnistratif Nan, dan juga pusat pemerintahan propinsi Jing). Saat Liu Bei mendengar kabar tersebut dari tempat persembunyiannya di kota Baidicheng, ia mengirimkan surat kepada Lu Xun dengan tujuan propaganda(menjatuhkan moral). Lu Xun menanggapi pesan ancaman dari Liu Bei tersebut sebagai gertakan kosong, karena ia yakin bahwa kekuatan pasukan Liu Bei belum pulih sejak kekalahannya di Yiling. Hal tersebut disampaikan oleh Lu Xun kepada Liu Bei dalam surat balasannya [disertai ancaman balik oleh Lu Xun yang menyatakan bahwa ia tak akan segan untuk memberi perintah kepada pasukannya untuk membantai habis seluruh pasukan Liu Bei(tanpa sisa seorang pun sebagai tawanan perang), jika memang Liu Bei mencoba mengirimkan kembali pasukannya dalam situasi saat itu]. Hingga Liu Bei wafat di Baidicheng setahun kemudian (tahun 223), tak ada satu pun pasukan Shu yang dikirimkan oleh Liu Bei untuk menyerang kembali propinsi Jing.


Kepercayaan Sun Quan pada Lu Xun semakin bertambah, hal tersebut ditunjukkan oleh Sun Quan dengan mengikut sertakan Lu Xun memberikan pendapat dan penilaian terhadap proposal aliansi/kerjasama kembali antara negara Shu dengan negara Wu, yang diajukan oleh Zhuge Liang(pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri negara Shu).


Pada tahun 228, ketika Cao Rui (曹叡)[kaisar kedua dari negara Cao Wei] menugaskan Cao Xiu‎ (曹休) untuk menyerang daerah Xunyang(尋陽)[salah satu daerah dari wilayah negara Wu]. Untuk membendung serangan tersebut, Sun Quan menugaskan Lu Xun kembali sebagai “Komandan utama”[Grand Viceroy(大都督)] pasukan Wu, serta menugaskan salah seorang jenderalnya, bernama Zhou Fang(周鲂) untuk bersiasat seakan membelot ke kubu pasukan Cao Xiu. Pada awalnya, sempat muncul kecurigaan Cao Xiu terhadap Zhou Fang, namun akhirnya Cao Xiu jatuh dalam perangkap yang telah diatur oleh Zhou Fang [Zhou Fang yang lebih mengenal seluk beluk kondisi medan pertempuran, telah berhasil menyesatkan pasukan Cao Xiu di daerah Shiting]. Setelah kondisi pasukan Cao Xiu mengalami kekacauan dan tercerai berai, Lu Xun segera menugaskan Zhu Huan and Quan Cong (2 komandan pasukan yang dipimpinnya) untuk memimpin 2 divisi pasukan Wu menyerang posisi pasukan Cao Xiu dari 2 sisi berbeda. Akibat serangan tersebut, Cao Xiu dan pasukannya berhasil dipukul mundur hingga ke kota Jiashi (夾石). Tak lama berselang, Cao Xiu wafat akibat sakit paska kekalahannya dalam pertempuran di Shitting (battle of Shitting). Atas jasa dan prestasinya mengalahkan pasukan negara Cao Wei di daerah Shitting, Lu Xun memperoleh banyak hadiah dari Sun Quan, bahkan saat Lu Xun tiba di ibukota Wuchang(武昌) untuk memenuhi panggilan dari Sun Quan ke istananya, Sun Quan memberi perintah kepada para pelayan istana untuk menyambut kedatangan Lu Xun dengan payung istana(payung yang hanya digunakan untuk menyambut tamu kehormatan negara). Setelah peristiwa tersebut, Lu Xun menempati kediaman dinasnya yang baru di kota Xiling (西陵).


Paska Sun Quan mengukuhkan dirinya sebagai Kaisar Wu di kota Wuchang(武昌)pada tahun 229, Sun Quan lalu menunjuk Lu Xun sebagai “Panglima utama” [General-in-Chief (大將軍)] dan sekaligus “Komandan pelindung kanan ibukota negara”[Right Defender of the Capital(右都護)]. Pada tahun yang sama, saat Sun Quan menetap kembali ke kota Jianye(建業), ia mempercayakan pemerintahan kota Wuchang kepada Sun Deng(putra mahkota) dengan diperbantu oleh beberapa pejabat tinggi istana. Secara khusus, Sun Quan telah mempercayai dan menunjuk Lu Xun untuk mendampingi Sun Deng, serta membantunya mengawasi jalannya pemerintahan, serta memiliki wewenang penuh untuk mengawasi pemerintahan di propinsi Jing dan pemerintahan di tiga wilayah administratif lainnya.


Legenda telah mencatat, Lu Xun juga dikenal sebagai seorang yang tegas menjunjung tinggi kedisiplinan, hal tersebut ditunjukkannya saat ia menegur keras perilaku Sun Lu(孫慮)[salah seorang putra kandung dari Sun Quan] yang diketahui telah melalaikan kewajiban studinya. Untuk kesenangan pribadi, Sun Lu membangun sebuah kandang kecil di depan aula kediaman pribadinya, bertujuan sebagai lokasi adu bebek/ hewan peliharanya. Setelah mendapat teguran tersebut, Sun Lu lalu segera meruntuhkan kandang tersebut, dan lalu kembali menekuni kewajibannya.

Hal serupa juga terjadi dimana Lu Xun menjatuhkan hukuman/sanksi kepada para pengikut dan bawahan dari Sun Song (孫松)[salah seorang keponakan dari Sun Quan], karena diketahui telah melanggar kedisiplinan dalam barak pasukan.
Tidak hanya dalam kedisiplinan, Lu Xun pun peduli dengan pembangunan moral dan sikap/aklak baik dalam kalangan pejabat negara yang berada dibawah otoritasnya. Kepeduliannya ditunjukkan dengan menegur Xie Jing(謝景)[salah seorang pejabat negara yang bertugas di administratif Nanyang(南陽)], karena diketahui telah mengadopsi sistem pengadilan yang dijalankan oleh Liu Yi(劉廙)[salah seorang pejabat negara yang pernah mengabdi pada negara Cao Wei]. Menurut pandangan Lu Xun, sistem pengadilan Liu Yi tidak bermartabat, dan tak layak diterapkan dalam lingkungan pemerintahan yang dibawahi langsung oleh Putra mahkota negara.  
Meskipun Lu Xun berada jauh dari ibukota, karena kepeduliannya terhadap keberlangsungan pemerintahan negara, Lu Xun selalu memberikan himbauan dan nasihat kepada Sun Quan (melalui korespondensi ke ibukota) untuk selalu bijak dalam memberikan “hukuman” dan “penghargaan”, sehingga dapat membina hubungan kerja yang baik antara penguasa dengan pengabdi, sehingga para pejabat negara(baik militer ataupun sipil) dapat semakin setia dan memberikan kontribusi terbaik.

Suatu ketika Sun Quan berencana hendak menggelar kampanye militer/invasi ke wilayah Yizhou(夷州)[saat kini: kepulauan Taiwan] dan wilayah Zhuya (朱崖)[saat kini: kepulauan Hainan]. Saat Sun Quan menanyakan pendapat dari Lu Xun, Lu Xun menghimbau untuk menunda rencana tersebut dengan alasan pertimbangan jarak yang jauhnya untuk menuju kedua wilayah tersebut, disertai dengan medan yang belum diketahui, sehingga kurang memberikan keuntungan bagi pemerintahan. Karena Sun Quan tidak menghiraukan nasihat Lu Xun, pada akhirnya kampanye militer tersebut kandas dan gagal.


Pada bulan kelima, tahun 234, Sun Quan memimpin kampanye militer terhadap negara Wei dengan tujuan mendukung kampanye militer dari Perdana menteri negara Shu/Zhuge Liang ke wilayah negara Wei [yang telah digelar terlebih dahulu oleh Zhuge Liang pada bulan kedua, tahun 234]. Target tujuan Sun Quan adalah menduduki daerah Hefei (合肥). Untuk mendukung kampanye militernya, Sun Quan menugaskan Lu Xun dan Zhuge Jin (諸葛瑾) untuk memimpin pasukan menyerang kota Xiangyang襄阳. Karena kondisi pasukan Wu/Sun Quan yang labil saat menghadapi pasukan Wei yang dipimpin langsung oleh Cao Rui(曹叡)[kaisar kedua dari negara Cao Wei], pada akhirnya Sun Quan memutuskan untuk menarik mundur seluruh pasukannya.

Pada saat yang sama, Han Bian(韓扁)[salah seorang perwira kepercayaan dari Lu Xun] tertangkap oleh pasukan Wei(yang dipimpin oleh Tian Yu), saat dalam perjalanan kembali untuk bergabung dengan Lu Xun(paska mengantarkan surat dari Lu Xun kepada Sun Quan). Setelah mengetahui kedua berita tersebut, Zhuge Jin segera memberitakan kondisi tersebut melalui surat kepada Lu Xun. Dalam isi suratnya, Zhuge Jin mendesak Lu Xun untuk segera menarik mundur pasukan. Namun Lu Xun tidak segera menanggapi pesan tersebut, melainkan menugaskan pasukannya untuk terus mempersiapkan penyerangan terhadap pasukan Wei, sambil menggarap ladang dengan menanam sayuran serta kacang [seolah tidak mengetahui peristiwa terkini].

Karena tidak mendapatkan respon, Zhuge Jin segera menemui Lu Xun secara langsung. Saat mereka bertemu, Lu Xun akhirnya berpendapat bahwa ia tidak segera mundur dari medan perang karena ia berupaya untuk tetap menjaga kestabilan moral dan mental pasukannya [agar tidak menyadari kondisi yang sesungguhnya]. Hal tersebut dilakukan Lu Xun, karena ia yakin bahwa pasukan musuh/pasukan Wei juga telah telah mengetahui kondisi sesungguhnya (berita tentang penarikan mundur seluruh pasukan Wu/Sun Quan dari Hefei). Lu Xun juga yakin bahwa pasukan musuh masih belum melakukan penyerangan karena mereka masih menunggu pergerakan pasukan Wu. Kuat dugaan Lu Xun, bahwa moral pasukan musuh sedang merosot karena mereka segan dengan popularitas nama dirinya(popularitas nama Lu Xun sedang menanjak sejak keberhasilannya memenangkan pertempuran Yiling), sadar hal tersebut, Lu Xun berupaya memanfaatkan kondisi tersebut sambil merencanakan siasat penarikan mundur seluruh pasukannya tanpa disadari oleh pasukan musuh. Lu Xun menyadari bahwa posisi pasukannya sedang tidak aman untuk mundur secara tiba-tiba, sebab pasukan musuh akan menduga moral pasukannya telah jatuh, sehingga mereka akan segera menyerang dan melakukan pengejaran, hal tersebut tidak menguntungkan karena moral dan semangat pasukan musuh akan terpacu tinggi secara spontan, sebaliknya moral pasukannya akan merosot drastis.

Pada akhirnya Lu Xun dan Zhuge Jin melakukan siasat penarikan mundur pasukannya secara teratur tanpa menimbulkan kecurigaan pasukan Wei. Lu Xun menugaskan Zhuge Jin untuk mempersiapkan jalur evakuasi dengan sejumlah kapal untuk proses mundur seluruh pasukannya. Pada saat yang sama, Lu Xun memimpin sebagian dari pasukannya untuk melakukan serangan palsu terhadap pasukan Wei yang berada tak jauh dari gerbang kota Xiangyang. Ketenaran pasukan Lu Xun berimbas tidak langsung terhadap moral pasukan Wei, sehingga pasukan Wei memilih untuk mundur ke benteng kota dan mempersiapkan pertahanan. Kesempatan tersebut tidak disiakan oleh Lu Xun, ia segera melakukan manufer pasukannya dengan perintah mundur secara teratur menuju ke sejumlah kapal yang telah disiapkan, dan lalu meninggalkan daerah Xiangyang tanpa mendapatkan serangan/pengejaran dari pasukan Wei.


Di tengah perjalanan kembali ke wilayah Wu, pasukan Lu Xun singgah sesaat di daerah Baiwei (白圍) dengan tujuan untuk berburu. Pada saat yang sama, Lu Xun mengirim pasukannya(secara rahasia) yang dipimpin Zhou Jun (周峻) dan Zhang Liang (張梁) untuk merampas persediaan pangan dari beberapa daerah di wilayah administratif Jiangxia(江夏郡)[masih merupakan bagian dari wilayah negara Cao Wei], antara lain:daerah Xinshi(新市), daerah Anlu (安陸) dan daerah Shiyang(石陽). Ketika pasukan Wu yang dipimpin oleh Zhou Jun tiba di daerah Shiyang, terjadi insiden yang menyebabkan jatuhnya korban tewas dalam jumlah besar dari rakyat sipil. Selain akibat serangan pasukan Wu, penyebab lain adalah karena dibunuh oleh prajurit Wei yang hendak segera menutup gerbang kota [bertujuan untuk mencegah serangan/penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Wu ke dalam kota]. Dalam aksi tersebut, pasukan Zhou Jun telah menahan sekitar seribu rakyat sipil. Saat Lu Xun mengetahui hal tersebut, ia memberi perintah kepada seluruh pasukannya untuk tidak berlaku sewenang terhadap seluruh tahanan sipil. Lu Xun juga memberi perintah kepada pasukannya untuk memberikan bantuan makanan dan kebutuhan pokok lainnya kepada para tahanan sipil yang menjadi korban insiden tersebut, sebelum akhinya dibebaskan kembali. Kebijakan Lu Xun tersebut telah menggugah simpatik banyak rakyat sipil, sehingga mereka berbondong-bondong untuk pindah menetap ke wilayah negara Wu, termasuk juga beberapa orang pejabat daerah dari negara Wei, seperti: Zhao Zhuo (趙濯)[pejabat daerah asal wilayah administratif Jiangxia], Pei Sheng (裴生)[jenderal/komandan pasukan Wei yang bertugas di daerah Geyang(戈陽)], serta Meiyi (梅頤)[kepala suku minoritas yang bermukim di sekitar wilayah Jiangxia].


Ketika Lu Shi (逯式)[salah seorang pejabat negara Cao Wei yang menjabat sebagai kepala daerah (太守) wilayah administratif Jiangxia(江夏郡) kerap kali menugaskan bawahannya untuk membuat onar di perbatasan wilayah Wei dengan wilayah Wu. Saat Lu xun mengetahui berita tersebut, Lu Xun berupaya mencari cara untuk mengakhirinya. Lewat peranan para telik sandi, pada akhirnya Lu Xun berhasil menyingkirkan Lu Shi dengan sebuah siasat propaganda.

Lu Xun yang mengetahui adanya perselisihan pribadi antara Lu Shi dengan Wen Xiu(文休)[salah seorang pejabat negara Wei, dan juga putra dari veteran jenderal Wen Pin(文聘)], memanfaatkan kondisi tersebut dengan mengirimkan surat rahasia palsu yang ditujukan kepada Lu Shi (berisikan berita palsu yang provokatif, seakan pemerintah negara Wu telah menyetujui permohonan Lu Shi untuk membelot ke negara Wu, karena alasan perselisihan pribadinya dengan Wen Xiu). Surat tersebut dengan sengaja tercecer di perbatasan kota Jiangxia, dan lalu ditemukan oleh salah seorang petugas(bawahan Lu Shi). Tak lama berselang, surat tersebut sampai ke tangan Lu Shi. Lu Shi yang kuatir dengan efek propaganda tersebut, segera mengirim seluruh anggota keluarganya meninggalkan Jiangxia, dan pada akhirnya ia harus kehilangan jabatannya dan menghilang tak lama kemudian.

Pada tahun 237, Gongsun Yuan (公孫淵)[penguasa wilayah Liaodong(遼東半島)]memutuskan hubungan bilateral/aliansi, disertai dengan eksekusi mati terhadap utusan duta besar negara Dong Wu, sehingga hal tersebut menyulut amarah Sun Quan. Sun Quan berniat mengirimkan pasukannya untuk menyerang wilayah Liaodong, namun akhirnya ia mengurunkan niat tersebut setelah mendengar nasihat dari Lu Xun. Hal tersebut karena Sun Quan tidak ingin mengulang kembali pengalaman buruk yang pernah dilakukannya [setelah mengingat kegagalan dalam kampanye militer ke wilayah Yizhou(夷州)dan Zhuya (朱崖)]. Tepat setahun kemudian, Gongsun Yuan akhirnya harus takluk oleh Sima Yi(司馬懿)[komandan pasukan dari negara Cao Wei].


Pada tahun 237, Zhou Zhi (周祗)[salah seorang dari jenderal pasukan(中郎將)]berencana untuk merekrut sejumlah besar pasukan dari daerah Poyang (鄱陽). Lu Xun sempat memberi nasihat kepada Zhou Zhi untuk tidak merekrut calon pasukan dari daerah Poyang, karena rakyat sipil di daerah tersebut diragukan kesetiaannya, serta sering membuat onar. Namun Zhou Zi tidak menghiraukan petunjuk tersebut. Prediksi dan penilaian dari Lu Xun tidak meleset, karena tak lama berselang Wu Ju(吳遽)[salah seorang dari bawahan Zhou Zi] memimpin pemberontakan di daerah Poyang. Akibat dari peristiwa tersebut, Zhou Zi tewas terbunuh, dan beberapa kota kecil serta daerah di sekitarnya berhasil dikuasai oleh pemberontak. Pemberontakan semakin meluas, setelah sejumlah besar pasukan milisi asal daerah Yuzhang (豫章) dan daerah Luling (廬陵) turut bergabung dengan Wu Ju, dan lalu berhasil menduduki daerah mereka masing-masing. Pada akhirnya Lu Xun berhasil memadamkan seluruh aksi pemberontakkan tersebut [Wu Ju dan seluruh pasukan milisi dipaksa untuk menyerah] dengan kekuatan 8 ribu pasukan.


Ketika seorang pejabat tinggi arsip dan sekertariat pusat negara(中書典校), bernama Lü Yi (呂壹) dikenal memiliki sikap yang ceroboh, dan sering menyalah gunakan wewenang. Lu Xun dan Pan Jun(潘濬) [menteri budaya dan tata pelaksanaan negara(太常)] sangat cemas dengan sikap dan sepak terjang Lu Yi. Sun Quan sempat mendapatkan nasihat dan himbauan dari Lu Xun dan Pan Jun tentang hal tersebut. Meskipun pada awalnya masalah tersebut tidak mendapatkan tanggapan oleh Sun Quan, namun pada akhirnya Sun Quan menjatuhkan hukuman mati kepada Lu Yi, setelah ia terbukti melakukan kesewenangan yang serius dalam menjalankan tugasnya.


Ketika dua pejabat tinggi negara bernama Xie Yuan (謝淵) dan Xie Gong (謝厷) mengusulkan perubahan kebijakan negara yang diharapkan dapat menambah pemasukan pajak negara. Sun Quan meminta pendapat kepada Lu Xun perihal usulan tersebut, lalu Lu Xun memberikan pendapat dan nasihatnya kepada Sun Quan untuk menunda kebijakan baru tersebut, dengan alasan bahwa perekonomian rakyat masih belum berlimpah seluruhnya.


Ada banyak nasihat yang Lu Xun sampaikan kepada Sun Quan dalam hal pemerintahan, salah satunya adalah dengan menghimbau Sun Quan untuk menolak usulan Ji Yan(曁豔)[salah seorang pejabat tinggi negara Wu], yang mengusulkan perombakan secara drastis seluruh tata administrasi negara. Alasan Lu Xun atas himbauannya tersebut karena ia telah memprediksi perombakan tersebut akan menyebabkan masalah baru di kemudian hari. Pada akhirnya, prediksi dari Lu Xun tidak meleset. Tidak hanya kepada Sun Quan semata, Lu Xun juga banyak memberikan nasihat kepada rekan ataupun bawahannya. Salah satu contoh nasihat yang sempat diberikan Lu Xun [nasihat kepada Zhuge Ke] adalah agar Zhuge Ke dapat mengurangi sikap arogansi terhadap setiap individu yang lebih unggul, serta tidak meremehkan setiap individu yang lebih lemah dari dirinya.


Pada tahun 244, Sun Quan menunjuk Lu Xun sebagai Perdana menteri(丞相), menggantikan Gu Yong(顧雍). Penunjukan tersebut dilakukan oleh Sun Quan, tak lama berselang setelah wafatnya Gu Yong. Meskipun Lu Xun telah menjabat sebagai perdana menteri, namun ia masih dipercaya oleh Sun Quan untuk tetap meneruskan jabatan lama sebagai gubernur(州长) propinsi Jing(荊州), serta “Komandan pelindung kanan ibukota negara”[Right Defender of the Capital(右都護)] dengan tetap berkedudukan di kota Wuchang(武昌).


Pada tahun 245 ( tak lama setelah Lu Xun menjabat sebagai perdana menteri), tersiar kabar adanya lowongan berkarir di kediaman(sekaligus tempat dinas) milik putra mahkota Sun He(孙和)dan di kediaman milik Pangeran Lu(魯王) [Sun Ba(孫霸)], sehingga mengundang banyak pejabat negara yang mendaftarkan sanak keluarganya dengan tujuan untuk dapat memiliki hubungan khusus dengan anggota keluarga Sun. Setelah mendengar berita tersebut dari Quan Cong (全琮), Lu Xun mengkritik proses perekrutan pejabat baru tersebut karena tidak sesuai dengan syarat perekrutan yang benar (melainkan dengan cara nepotisme, sehingga akan berdampak buruk pada masa depan pemerintahan, karena akan menghadirkan banyak pejabat baru yang tidak kompeten). Disamping itu, Lu Xun juga telah melihat tanda adanya perpecahan dan persaingan politik antara Sun He dengan Sun Ba.


Ketika mengetahui Quan Ji(全寄)[salah seorang putra dari Quan Cong] adalah salah seorang asisten yang cukup dipercayai oleh Sun Ba(Quan Ji turut serta mendukung Sun Ba dalam persaingan politik menghadapi Sun He), Lu Xun sempat mengirimkan surat kepada Quan Cong yang berisikan himbauan kepada Quan Cong untuk memberikan nasihat dan peringatan kepada Quan Ji agar tidak terlibat terlalu jauh dalam persaingan politik antar kedua putra Sun tersebut, namun Quan Cong tidak menghiraukan himbauan/nasihat tersebut. Sejak saat itu, hubungan persahabatan antara Quan Cong dengan Lu Xun mulai merenggang.


Sun Ba yang sangat berambisi untuk menggeser posisi Sun He sebagai penerus tahta, semakin memperkeruh kondisi politik dalam pemerintahan. Karena kuatir posisi Sun He akan tersingkir sebagai calon penerus tahta yang resmi, Lu Xun berulang kali menulis/mengirimkan surat kepada Sun Quan, memohon agar ia diijinkan datang ke ibukota dengan maksud untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, namun Sun Quan tidak menanggapi permohonan tersebut.

Pada akhirnya, seluruh pejabat negara yang terbukti telah terlibat secara langsung dalam perseteruan antara Sun He dengan Sun Ba dijatuhi hukuman (hukuman mati ataupun pengasingan). Para pejabat negara yang dijatuhi hukuman pengasingan, tiga orang dari antaranya adalah keponakan Lu Xun [mereka telah terbukti terlibat mendukung Sun He], mereka adalah:Gu Tan(顧譚), Gu Cheng (顧承) dan Yao Xin (姚信). Sedangkan Wu Can(吾粲)[guru pembimbing putra mahkota(太子太傅)] ditahan, dan lalu dihukum mati karena tuduhan telah turut mendukung Sun He, serta kerap melakukan korespondensi dengan Lu Xun.
Sun Quan juga kerap kali mengirim utusannya untuk menyampaikan surat peringatan keras kepada Lu Xun, yang diduga turut terlibat mendukung Sun He. Sejak saat itu, hubungan dan kepercayaan Sun Quan terhadap Lu Xun mulai memudar. Tak lama kemudian, Lu Xun wafat (pada usia 63 tahun) akibat memendam frustasi, kekecewaan dan kemarahan. Tak banyak harta kekayaan yang diwariskan Lu Xun kepada keluarganya.
Atas jasa dan kontribusinya kepada negara Wu, Lu Xun memperoleh anugerah gelar "Marquis Zhao" (昭侯)dari Sun Xiu(孫休)[kaisar negara Wu yang ketiga], dimana gelar kehormatan tersebut diterima resmi oleh Lu Kang(陸抗)[putra kedua dari Lu Xun, yang juga mengabdikan diri kepada negara Wu sebagai salah seorang jenderal pasukan].

Pada tahun 250 (lima tahun setelah wafatnya Lu Xun), Sun Quan mengakhiri perseteruan antara Sun He dengan Sun Ba. Pada akhirnya, Sun Quan menjatuhkan hukuman mati kepada Sun Ba, dan pencabutan gelar putra mahkota dari Sun He (yang disertai dengan hukuman pengasingan). Gelar putra mahkota akhirnya dianugerahkan kepada putra bungsunya [Sun Liang (孫亮)].



---000---

Disusun dan terjemahkan ulang oleh Agust DZ
Sumber: Wikipedia        

Komentar