Koalisi anti Dong Zhuo (190-192)

Pendahuluan

Tak lama setelah Kaisar Ling (靈帝) wafat pada tahun 189, putra mahkota Liu Bian (劉辯) naik tahta dengan gelar Kaisar Shao (少帝). Karena Kaisar masih usia belia, maka seluruh urusan kenegaraan ditangani langsung oleh Ibusuri He (何太后) dan Jenderal He Jin(何進). Namun 10 kasim istana (十中常侍) tidak mendukung penuh pemerintahan Kaisar Shao, karena mereka lebih mendukung Liu Xie (劉協) [saudara tiri dari kaisar Shao] sebagai penerus tahta, sehingga terjadilah perseteruan antara 10 kasim istana (十中常侍) dengan He Jin (何進). 
Dalam perseteruan tersebut, He Jin didukung oleh para pejabat anti kasim istana yang dipimpin Yuan Shao (袁绍). Mereka berencana untuk menyingkirkan dan mengakhiri dominasi para kasim istana dari pemerintahan pusat, tetapi rencana tersebut tidak disetujui oleh Ibu suri He (何太后), sehingga Yuan Shao mengajukan usul kepada He Jin untuk memanggil bantuan pasukan yang dipimpin Dong Zhuo (董卓), Ding Yuan (丁原), Wang Kuang (王匡), dan Qiao Mao (橋瑁) untuk segera kembali ke ibukota [kota Luoyang (洛陽)] dengan tujuan menyingkirkan para kasim istana serta seluruh pengikutnya. Namun rencana tersebut bocor, sehingga para kasim mengambil langkah terlebih dahulu dengan menjebak dan membunuh He Jin. 
Kabar tewasnya He Jin tersebar luas, sehingga memprovokasi pasukan anti kasim istana yang dipimpin Yuan Shu (袁术) untuk menerobos masuk ke ibukota/ istana dan melakukan pembantaian terhadap seluruh pengikut kasim istana. 
Sejumlah kasim istana yang luput dari pembantaian, melarikan diri keluar dari istana/ ibukota dengan melakukan penyanderaan terhadap Kaisar Shao (少帝), Ibusuri He (何太后) dan Liu Xie (劉協). Mereka berupaya lolos dari pengejaran pasukan hingga akhirnya terdesak di tepi sungai kuning (“huang he” 黄河). Pada akhirnya para kasim istana memutuskan untuk membebaskan seluruh sandera, dan lalu mengakhiri hidup mereka masing-masing dengan menghanyutkan diri ke sungai kuning (黄河).
Kaisar Shou dan Liu Xie akhirnya berhasil ditemukan dengan selamat oleh pasukan Dong Zhuo, dan lalu dikawal kembali ke istana. 
Tak lama setelah Dong Zhuo (董卓) tiba di ibukota, ia menemukan adanya peluang untuk berkuasa. Pada akhir tahun 189, Dong Zhuo akhirnya melakukan kudeta dengan mengangkat Liu Xie (劉協) sebagai kaisar yang baru [dengan gelar kaisar Xian (獻帝)] setelah mencopot secara paksa tahta resmi dari Kaisar Shou (少帝), dan lalu ia mengukuhkan diri sebagai perdana menteri (丞相).

Dong Zhuo lancarkan kudeta
Sebagai Perdana menteri yang berkuasa, Dong Zhuo bertindak penuh kelaliman dengan menjadikan kaisar Xian (獻帝) sebagai “boneka pemerintahannya”. Kesewenangannya telah menyebabkan jalannya roda pemerintahan semakin memburuk, sehingga menambah penderitaan rakyat kecil.
Untuk memperkokoh kekuasaannya, Dong Zhuo berhasil membujuk Lü Bu (呂布) untuk berpihak kepadanya dengan mengkhianati dan menyingkirkan Ding Yuan (丁原). Kemudian Dong Zhuo menunjuk Lü Bu sebagai jenderal sekaligus ajudannya.

Koalisi Guandong (關東聯軍)

Sebelum melancarkan kudeta, Dong Zhuo sempat membujuk Yuan Shao (袁绍) untuk bekerja sama dengannya, namun Yuan Shao menentang rencana tersebut. Karena kuatir akan keselamatan dirinya, maka Yuan Shao segera meninggalkan ibukota, dan berlindung ke wilayah Bohai(勃海郡) di propinsi Ji(兾州).

Saat mengetahui berita tersebut, Dong Zhuo sempat memerintahkan penangkapan terhadap Yuan Shao. Namun berkat nasihat dan saran dari Zhou Bi (周毖), Wu Qiong (伍瓊) dan He Yong (何顒) [tanpa sepengetahuan Dong Zhuo, mereka berkonspirasi dan memihak kepada Yuan Shao], pada akhirnya Dong Zhuo mencabut perintah tersebut, bahkan memberikan promosi jabatan kepada Yuan Shao sebagai kepala wilayah Bohai (勃海郡太守) dengan tujuan agar Yuan Shao tidak melakukan pemberontakan.

Penunjukan dirinya sebagai kepala wilayah Bohai(勃海郡太守) tidak menyurutkan tekad Yuan Shao untuk menentang kekuasaan Dong Zhuo. Bahkan melalui otoritas jabatan barunya, Yuan Shao menghimpun kekuatan pasukan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada di wilayah Bohai (勃海郡), meskipun upaya tersebut selalu dibayangi pengawasan Han Fu (韓馥) [pada saat itu menjabat sebagai Gubernur propinsi Ji(兾州牧)].

Pada awal tahun 190, akhirnya Qiao Mao (橋瑁)[Kepala wilayah Dong (東郡太守)] menyebarkan fakta tentang kudeta yang telah dilakukan Dong Zhuo (董卓) terhadap tahta resmi Kaisar Shou(少帝). Berita tersebut menuai kecaman terhadap Dong Zhuo, dan mengundang sejumlah panglima pasukan dan penguasa daerah untuk bertemu di timur Gerbang Hangu (函谷關). Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk berkoalisi menentang kekuasaan Dong Zhuo [Koalisi Guandong (關東聯軍)], serta sepakat menunjuk Yuan Shao sebagai pemimpin koalisi.

Anggota koalisi Guandong yang tercatat dalam sejarah, antara lain:
  • Yuan Shu (袁术) [Panglima belakang(後將軍)] 
  • Han Fu (韓馥) [Gubernur propinsi Ji (兾州牧)] 
  • Kong Zhou (孔伷) [Pejabat tinggi pengawas propinsi Yu (豫州刺史)] 
  • Liu Dai (劉岱) [Pejabat tinggi pengawas propinsi Yan (兖州刺史)] 
  • Wang Kuang (王匡) [Kepala wilayah Henei (河內太守)] 
  • Yuan Shao (袁绍) [Kepala wilayah Bohai (勃海太守)] 
  • Zhang Miao (張邈) [Kepala wilayah Chenliu (太守張邈)] 
  • Qiao Mao (橋瑁) [Kepala wilayah Dong (東郡太守)] 
  • Yuan Yi (袁遺) [Kepala wilayah Shanyang (山陽太守)] 
  • Bao Xin (鲍信) [Kanselir negara bagian Jibei (濟北相國)] 
  • Zhang Chao (張超) [Kepala wilayah Guangling (廣陵太守)]
  • Zhang Yang (張楊) [Kepala wilayah Shangdang (上黨太守)]
  • Yufuluo (於夫羅) [Kepala suku Xiongnu (匈奴王)] 
  • Sun Jian (孫堅) [Kepala wilayah Changsha (長沙郡太守)]
  • Cao Cao (曹操) [Komandan (都尉) pasukan milisi]
Koalisi Guandong terbagi menjadi lima divisi pasukan yang tersebar di lima lokasi berbeda yang mengelilingi/ mengepung kota Luoyang (洛陽城) [ibukota], dimana kelima lokasi tersebut terletak di:


  • wilayah Henei (河內郡) [sisi utara kota Luoyang 洛陽], merupakan basis pertahanan gabungan pasukan Yuan Shao, Wang Kuang, Zhang Yang, dan Yufuluo.
  • Kota Suanzao (酸棗) [sisi timur kota Luoyang 洛陽], merupakan basis pertahanan gabungan pasukan Zhang Miao, Liu Dai, Qiao Mao, Yuan Yi, dan Cao Cao
  • Kota Luyang (魯陽) [sisi selatan kota Luoyang 洛陽], merupakan basis pertahanan pasukan Yuan Shu [dimana pasukan Sun Jian merupakan bagian dari divisi pasukan Yuan Shu]
  • wilayah Yingchuan (穎川郡) [sisi tenggara kota Luoyang 洛陽], merupakan basis pertahanan pasukan Kong Zhou
  • Kota Ye (鄴) [sisi timur laut kota Luoyang 洛陽], merupakan basis pertahanan pasukan Han Fu


Pengepungan terhadap Luoyang 

Berita terbentuknya koalisi Guandong akhirnya sampai kepada Dong Zhuo. Sebagai tanggapan, Dong Zhuo segera menghimpun kekuatan pasukannya dan menyatakan kondisi perang terhadap koalisi Guandong yang dituding sebagai pemberontak. Pada saat yang sama, Dong Zhuo memerintahkan penangkapan dan eksekusi mati terhadap seluruh pejabat dan rakyat sipil bernama keluarga Yuan (袁) yang bermukim di wilayah ibukota sekitarnya.
Insiden tersebut telah menyebabkan tewasnya hampir seluruh sanak keluarga Yuan Shao dan Yuan Shu, serta ratusan jiwa rakyat sipil.

Aksi pengepungan yang dilakukan koalisi Guandong terhadap ibukota [kota Luoyang (洛陽城)] telah menyebabkan terputusnya aliran masuk pendapatan pajak dari seluruh wilayah/ propinsi, sehingga Dong Zhuo memerintahkan sejumlah pasukannya untuk melakukan penjarahan terhadap seluruh harta benda, patung dan artifak berbahan perak dan perunggu yang berada dalam wilayah ibukota dan sekitarnya, untuk dilebur dan dijadikan uang koin dalam jumlah besar, lalu kemudian digunakan secara masal dalam pasar perdagangan, sehingga menyebabkan krisis ekonomi karena tingginya tingklat inflasi.

Dong Zhuo memindahkan ibukota ke Chang’an

Terancam oleh pengepungan dan keberadaan koalisi Guandong, menyebabkan Dong Zhuo mempertimbangkan kembali salah satu usulan untuk memindahkan lokasi ibukota.
Pada bulan ke-empat tahun 190, Dong Zhuo akhirnya memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan/ibukota ke kota Chang’an (長安城) beserta evakuasi masal secara paksa seluruh penduduk/ rakyat sipil yang bermukim di kota Luoyang (洛陽城) dan sekitarnya. Ancaman hukuman mati diberlakukan kepada setiap individu yang menolak turut serta dalam evakuasi masal tersebut.
Kaisar Xian (獻帝) beserta dengan seluruh pejabat non militer turut serta dalam evakuasi tersebut, sedangkan Dong Zhuo beserta sebagian besar pasukannya tetap berada di kota Luoyang (洛陽城) sebagai basis pertahanan menghadapi pasukan koalisi. Tercatat dalam sejarah, peristiwa tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil dalam jumlah yang besar selama berlangsungnya evakuasi.

Karena simpang siurmya kabar keberadaan dan keselamatan kaisar Xian, pasca Dong Zhuo memindahkan ibukota dari kota Luoyang ke kota Chang’an, hal tersebut mendorong inisiatif Yuan Shao dan Han Fu untuk mencalonkan Liu Yu (劉虞) [Pejabat tinggi pengawas propinsi You (幽州刺史)] sebagai kaisar yang baru, karena Liu Yu masih memiliki garis keturunan langsung dengan kaisar terdahulu.
Namun Liu Yu menolak pencalonan dirinya tersebut, ketika utusan dari Yuan Shao tiba dan menyampaikan pesan tersebut kepada Liu Yu. Penolakan oleh Liu Yu tersebut karena ia masih memiliki rasa hormat dan kesetiaan kepada Kaisar Xian.

Agresi militer Dong Zhuo

Saat mendengar kabar evakuasi masal yang dilakukan oleh Dong Zhuo, tidak ada satupun pemimpin pasukan koalisi yang menanggapi karena mereka gentar dengan keunggulan pasukan Dong Zhuo.
Cao Cao (曹操) yang melihat adanya peluang, lalu memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap pertahanan pasukan Dong Zhuo.
Pasukan Cao Cao [sebagian besar adalah pasukan milisi] bergerak dari kota Suanzao (酸棗) untuk menduduki kota Chenggao (成皋). Upaya Cao Cao tersebut didukung oleh salah satu divisi dari pasukan Zhang Miao (張邈) yang dipimpin Wei Zi (衛茲), namun pasukan Dong Zhuo yang dipimpin oleh Xu Rong (徐榮) berhasil mengalahkan gabungan pasukan Cao Cao-Wei Zi di daerah Xinyang (信阳). Akibat peristiwa tersebut [dikenal juga dengan peristiwa pertempuran Xingyang 荥阳之战], Wei Zi gugur dalam pertempuran, sedangkan Cao Cao harus mundur kembali ke daerah Suanzao (酸棗) dengan kondisi terluka parah.
Setibanya kembali ke kota Suanzao (酸棗), Cao Cao sempat mendesak para pemimpin pasukan koalisi untuk segera melanjutkan serangan terhadap posisi pasukan Dong Zhuo, namun upaya Cao Cao berujung pada kekecewaan karena tak seorangpun pemimpin pasukan koalisi yang menanggapi. Pada akhirnya Cao Cao memutuskan untuk meninggalkan kota Suanzao (酸棗), dimana ia dan sisa pasukannya menuju ke wilayah Henei (河內郡) untuk bergabung dengan pasukan Yuan Shao.

Pada saat yang sama, Dong Zhuo mengutus Han Rong (韓融), Yin Xiu (陰修), Humu Ban (胡毋班), Wu Xiu (吳修), dan Wang Gui (王瑰) untuk merundingkan gencatan senjata dan menuntut pembubaran koalisi Guandong (關東聯軍), namun Yuan Shao memerintahkan penangkapan dan eksekusi mati kepada seluruh utusan tersebut [terkecuali Han Rong (韓融)].
Karena perundingan tersebut mengalami jalan buntu, maka Dong Zhuo mengirim sejumlah pasukan untuk melancarkan serangan dan pengepungan terhadap pertahanan pasukan Wang Kuang (王匡) di daerah Heyangjin (河陽津) [terletak di sisi utara kota Luoyang 洛陽]. Tidak sanggup membendung serangan lebih lanjut, pada akhirnya Wang Kuang menarik mundur seluruh pasukannya dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari koalisi, lalu menyingkir dan mencari perlindungan ke wilayah Taishan (泰山郡).
Pada musim dingin tahun 190, Dong Zhuo mengirim sejumlah pasukan untuk menyerang posisi pasukan koalisi yang dipimpin Yuan Shu (袁术) di kota Luyang (魯陽) [sisi selatan kota Luoyang (洛陽)]. Ketika itu pasukan Sun Jian(孫堅) telah bergabung dengan kesatuan pasukan Yuan Shu, dan berada di kota tersebut.
Saat mendengar kedatangan pasukan Dong Zhuo, Sun Jian yang saat itu sedang mengadakan perjamuan, segera memerintahkan seluruh pasukannya membentuk formasi tempur, serta mengedarkan arak ke seluruh barisan pasukannya. Siasat yang dijalankan Sun Jian berhasil menjatuhkan moral tempur pasukan musuh, sehingga komandan pasukan musuh memutuskan untuk menarik mundur seluruh pasukannya setelah melihat kedisiplinan yang dimiliki oleh pasukan Sun Jian.

Agresi militer Sun Jian

Pada bulan ke-tiga tahun 191, pasukan Sun Jian bergerak menuju kota Luoyang. Saat berada di daerah Liangdong (梁東), pasukan Sun Jian harus menghadapi sejumlah besar pasukan Dong Zhuo yang dipimpin Xu Rong (徐榮). Dalam pertempuran itu, pasukan Sun Jian terdesak dan terkepung oleh pasukan Xu Rong, karena jumlah kekuatan yang tidak sebanding.
Namun pada akhirnya Sun Jian berhasil menerobos pengepungan dan lolos pengejaran setelah  Zu Mao (祖茂) (salah seorang perwira andalannya) berhasil mengecoh dan mengalihkan perhatian pasukan musuh.

Setelah menyatukan kembali pasukannya yang sempat terpecah, Sun Jian dan pasukannya lalu menempati daerah Yangren (陽人). Tak lama kemudian, Dong Zhuo kembali mengirimkan sejumlah pasukannya yang dipimpin Lü Bu, Hua Xiong (華雄) dan Hu Zhen (胡軫) untuk menyerang kembali posisi pasukan Sun Jian.
Pasukan Sun Jian berhasil memenangkan pertempuran dengan memanfaatkan peluang, saat terjadi perseteruan dalam kubu pasukan Dong Zhuo  antara Lü Bu dengan Hu Zhen. Dalam pertempuran tersebut, Hua Xiong tertangkap dan lalu di eksekusi mati.

Berita kemenangan pasukan Sun Jian tersebar dan memicu kecemburuan dari beberapa pihak dalam koalisi Guandong, tak terkecuali para pejabat dan penasihat yang mengabdi kepada Yuan Shu. Mereka berhasil meyakinkan Yuan Shu untuk menghentikan pengiriman pasokan logistik kepada pasukan Sun Jian.
Saat mengetahui berita tersebut, Sun Jian segera kembali ke kota Luyang (魯陽) untuk menemui Yuan Shu dengan menempuh perjalanan ratusan li seorang diri dari Yangren (陽人). Dalam pertemuan tersebut, Sun Jian menyampaikan fakta dan bukti untuk menepis seluruh rumor yang tidak benar tentang dirinya.
Dengan penuh rasa malu, pada akhirnya Yuan Shu memerintahkan pengiriman kembali pasokan logistik tersebut ke Yangren (陽人).
     
Tak lama berselang, Sun Jian menggerakkan pasukannya menuju ke gerbang Dagu (大谷關) yang berjarak sekitar 90 li menuju ke kota Luoyang (洛陽).
Cemas dengan ancaman lanjut agresi pasukan Sun Jian, Dong Zhuo mengutus Li Jue (李傕) untuk membujuk dan menjanjikan hadiah kepada Sun Jian agar bersedia untuk berpihak kepadanya, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Karena negosiasi mengalami jalan buntu, pada akhirnya Dong Zhuo memutuskan untuk memimpin langsung penyergapan terhadap pasukan Sun Jian di dekat area pemakaman kuno, setelah terlebih dahulu menugaskan sejumlah pasukan yang dipimpin Lü Bu (呂布) untuk melakukan penjarahan terhadap komplek pemakaman para raja/bangsawan dan lalu melakukan pengrusakan terhadap sejumlah bangunan dalam kota Luoyang (洛陽城).

Penyergapan yang dipimpin langsung oleh Dong Zhuo ternyata tidak dapat menahan laju pasukan Sun Jian, sehingga Dong Zhuo harus menarik mundur pasukannya hingga ke kota Mianchi (渑池) dan kota Shan (陝).   
Sebelum lanjut menuju ke kota Luoyang (洛陽城), sejarah telah mencatat bahwa pasukan Sun Jian sempat tertahan beberapa saat di komplek pemakaman para raja/ bangsawan untuk memperbaiki sejumlah makam yang rusak akibat aksi pengrusakan dan penjarahan yang diperintahkan oleh Dong Zhuo.
Pasukan Dong Zhuo membakar kota Luoyang
Mendekati kota Luoyang, pasukan Sun Jian kembali disergap oleh pasukan Lü Bu, namun penyergapan tersebut dapat diatasi dengan terpukul mundurnya pasukan Lü Bu.

Catatan sejarah juga menuliskan bahwa Sun Jian berhasil menemukan sebuah segel kerajaan pada sebuah sumur di selatan kota Luoyang, Setelah menyimak nasihat salah seorang pengikut setianya, Sun Jian akhirnya menyimpan segel kerajaan tersebut. Namun pada akhirnya segel kerajaan tersebut diserahkan kepada Yuan Shu demi untuk kebebasan Ny Wu(吴夫人), setelah ia sempat ditahan/sandera oleh Yuan Shu yang berambisi penuh untuk merebut stempel tersebut dari tangan Sun Jian.

Setibanya di kota Luoyang, pasukan Sun Jian hanya menjumpai sisa reruntuhan kota tanpa penghuni. Karena tidak menemukan jejak keberadaan Kaisar, serta kondisi reruntuhan kota Luoyang sangat rentan dari serangan balik pasukan Dong Zhuo, maka Sun Jian memutuskan untuk menarik mundur seluruh pasukannya untuk kembali ke kota Luyang.

Agar konvoi pasukannya aman dari serangan balik pasukan Dong Zhuo selama dalam perjalanan kembali ke Luyang, Sun Jian menjalankan siasat dengan menugaskan sebagian pasukannya melakukan manufer ringan terhadap pertahanan pasukan Dong Zhuo yang berada di kota Xin'an (新安) dan kota Mianchi (渑池).

Siasat Sun Jian ditanggapi oleh Dong Zhuo dengan menugaskan sebagian kekuatan pasukannya untuk mempertahankan kota Mianchi (渑池), Huayin (华阴) dan kota Anyi (安邑), lalu Dong Zhuo beserta sisa pasukannya segera menyingkir menuju kota Chang’an (長安). 

Akhir koalisi Guandong (關東聯軍)

Pasukan koalisi tampak sangat meyakinkan pada awal pertempuran menghadapi pasukan Dong Zhuo. Namun seiring waktu, tampaklah sangat kontras perbandingan kemampuan antara pasukan koalisi dengan pasukan Dong Zhuo. 
Pasukan Dong Zhuo yang terlatih, berdisiplin tinggi dan berpengalaman tempur [ditempa oleh beratnya medan pertempuran selama menghadapi para pemberontak di wilayah propinsi Liang (涼州)] cenderung lebih unggul dibandingkan dengan pasukan koalisi yang kurang terlatih dan tidak berpengalaman. 
Kekurangan yang dimiliki kubu pasukan koalisi diperburuk dengan prilaku buruk beberapa anggota koalisi yang memanfaatkan kondisi kekacauan tersebut dengan penjarahan demi untuk keuntungan pribadi, beberapa dari mereka mulai membentuk kelompok-kelompok/ bersekutu untuk saling memperebutkan dan memperluas wilayah kekuasaan.
Beberapa anggota koalisi mulai meninggalkan tujuan utama (memerangi kelaliman Dong Zhuo) dengan memilih sikap pasif dalam setiap pertempuran. 
Bahkan sebagai pemimpin koalisi, Yuan Shao cenderung bersikap pasif karena masih dalam masa berkabung, pasca insiden eksekusi masal terhadap marga Yuan [atas perintah Dong Zhuo sebagai tanggapan terbentuknya koalisi Guandong]. 

Liu Dai (劉岱) menyingkirkan Qiao Mao (橋瑁)
Setelah alami kekalahan dalam pertempuran Xingyang (荥阳之战), Cao Cao [beserta sisa pasukannya] memutuskan untuk meninggalkan kota Suanzao (酸棗). Tak lama berselang, muncul perseteruan internal dalam barak pasukan koalisi di Suanzao (酸棗) antara Liu Dai (劉岱) dengan Qiao Mao (橋瑁), dimana perseteruan tersebut menyebabkan tewasnya Qiao Mao, sehingga otoritas wilayah Dong (東郡) mutlak diambil alih oleh Liu Dai. Kemudian Liu Dai menunjuk Wang Gong (王肱) sebagai kepala wilayah Dong(東郡太守) yang baru. 
Karena menipisnya persediaan logistik, maka pasukan koalisi Guandong yang berkedudukan di kota Suanzao (酸棗) akhirnya dibubarkan.

Yuan Shao (袁绍) ambil alih otoritas Jizhou (兾州) dari Han Fu (韓馥)
Pada lokasi yang berbeda, Han Fu (韓馥) mulai mengurangi pengiriman pasokan logistik secara berkala ke barak pasukan koalisi di wilayah Henei (河內郡). Hal tersebut menimbulkan kekuatiran Yuan Shao yang secara hirarki masih berada di bawah bayangan otoritas Han Fu. 
Karena ambisi, maka Yuan Shao menyusun siasat / berencana merebut otoritas propinsi Ji (兾州). 
Yuan Shao akhirnya memanfaatkan peluang, dimana ia berhasil mengambil alih otoritas propinsi Ji (兾州) sebagai syarat memberikan perlindungan kepada Han Fu dan seluruh keluarganya dari ancaman agresi pasukan Gongsun Zan (公孙瓒).

Dominasi Yuan Shu (袁术) 

Menjelang akhir tahun 190, otoritas wilayah propinsi Yu (豫州) diambil alih oleh Yuan Shu (袁术) tak lama setelah Kong Zhou (孔伷) wafat akibat sakit yang dideritanya. 
Kuatir akan semakin kuatnya pengaruh politik Yuan Shu di selatan, maka Yuan Shao menugaskan Zhou bersaudara [Zhou Yu (周喁)/ Renming (仁明), Zhou Xin (周昕) dan Zhou Ang (周昂)] untuk memimpin agresi militer/ invasi terhadap kota Yangcheng (陽城) [pusat pemerintahan propinsi Yu(豫州)].

Untuk mempertahankan kota Yangcheng(陽城), segera menunjuk Sun Jian (孫堅) sebagai pejabat tinggi pengawas propinsi Yu (豫州刺史) yang baru, sekaligus ditugaskan untuk membendung agresi militer/ invasi pasukan Zhou bersaudara.
Sebagai salah satu sekutu dari Yuan Shu, Gongsun Zan (公孙瓒) turut mengirimkan bantuan pasukan yang dipimpin oleh Gongsun Yue (公孙越) [keponakan dari Gongsun Zan] untuk memperkuat pasukan Sun Jian.
Pasukan Sun Jian sempat terdesak mundur pada awal pertempuran, namun pada akhirnya pasukan Zhou bersaudara dapat dipukul mundur, meskipun kemenangan tersebut harus dibayar mahal dengan gugurnya Gongsun Yue. 

Kematian Gongsun Yue menjadi salah satu penyebab perseteruan baru antara Gongsun Zan dengan Yuan Shao dalam pertempuran di Jieqiao (界橋) [dikenal dengan peristiwa pertempuran Jieqiao (界橋之戰)]. Walaupun Yuan Shao berhasil memenangkan pertempuran Jieqiao, namun keberadaan Gongsun Zan di wilayah utara akan tetap sebagai ancaman, sehingga Yuan Shao memutuskan untuk membina hubungan kerjasama/ bersekutu dengan Liu Biao (劉表) [Gubernur propinsi Jing (荆州牧)] untuk mengantisipasi ancaman dominasi Yuan Shu di wilayah selatan.   

Sejak rentetan peristiwa tersebut, maka koalisi Guandong/ anti Dong Zhuo berakhir dan kemudian terpecah menjadi dua kubu kekuatan yang saling bertikai, dimana kubu kekuatan Yuan Shao yang didukung Cao Cao dan Liu Biao menghadapi kubu kekuatan Yuan Shu yang didukung oleh Gongsun Zan dan Tao Qian (陶謙) [Gubernur propinsi Xu (徐州牧)].

Pada sisi lain, Dong Zhuo melanjutkan kembali pemerintahannya dengan penuh kelaliman di kota Chang’an hingga pada akhirnya ia tewas ditangan Lü Bu karena siasat dan konspirasi yang diatur oleh Wang Yun (王允) [Menteri Administrasi Negara ("situ" 司徒)].


---000---

By Agust DZ
Sumber: Wikipedia

Komentar