Masa akhir pemerintahan Dinasti Han timur (184 AD - 220 AD)

Masa kejayaan pemerintahan/dinasti Han timur berlangsung dari tahun 25 Masehi hingga tahun 146 Masehi. Namun kejayaan tersebut memudar saat masa pemerintahan Kaisar Huan (桓帝), karena Kaisar tidak mampu menjalankan roda pemerintahannya dengan benar, sehingga muncul banyak korupsi dan penyelewengan kekuasaan oleh para pejabat negara yang berdampak buruk langsung terhadap kinerja pemerintah. 
Kondisi bertambah buruk sejak Kaisar Huan memberikan perhatian isimewa dan peluang kepada para pejabat pelayan istana [sebagian besar adalah para kasim istana] untuk ikut terlibat dalam urusan pemerintahan.


Kondisi tersebut terus berlanjut hingga masa pemerintahan Kaisar Ling (靈帝), dimana pengaruh politik para pejabat pelayan istana/ 10 kasim istana (十常侍) yang korup tersebut semakin kuat dalam pemerintahan pusat, dan mendominasi setiap kebijakan pemerintahan demi kepentingan pribadi mereka. Hal tersebut menyebabkan roda pemerintahan dan tingkat perekonomian negara semakin terpuruk, sehingga memicu banyak pemberontakan di berbagai wilayah akibat dari semakin terhimpitnya rakyat kecil karena kemiskinan dan pungutan pajak yang tinggi.

Salah satu pemberontakan terbesar yang terjadi pada tahun 184 adalah pemberontakan sorban kuning /the yellow turban rebellion (黃巾之亂) yang dipimpin oleh Zhang Jue (張角) melalui ajaran Tàipíng Dào (太平道). Mereka berhasil menghimpun pengikut dalam jumlah yang besar dan menebarkan kekacauan hingga 8 propinsi [mencakup  propinsi Qing (靑州), propinsi Xu (徐州), propinsi You (幽州),propinsi  Ji (冀州), propinsi Jing (荆州), propinsi Yang (扬州), propinsi Yan (兗州), dan propinsi Yu (豫州)]. 

Sebagai respon, Kaisar Ling (靈帝) menunjuk He Jin (何進) sebagai panglima besar (大將軍) untuk menumpas aksi pemberontakan tersebut. Namun karena keterbatasan anggaran dan kekuatan pasukan pemerintah pusat, He Jin memberikan perintah pembentukan pasukan milisi dengan merekrut sukarelawan dari berbagai wilayah untuk memperkuat pasukan pemerintah pusat. Selama masa tersebut, muncul banyak tokoh sukarelawan yang sangat berpengaruh, seperti: Gongsun Zan (公孙瓒) , Sun Jian (孫堅), Cao Cao (曹操), Liu Bei (劉備), dan lainnya. Penumpasan pemberontakan sorban kuning berlangsung antara tahun 184 hingga 192, dimana pada akhirnya aksi pemberontakan berakhir secara berkala setelah kematian Zhang Jue. 

Tak lama setelah Kaisar Ling wafat pada tahun 189, putra mahkota Liu Bian (劉辯) naik tahta dengan gelar Kaisar Shao (少帝). Karena masih belia, maka Kaisar Shao memperoleh pendampingan khusus dari Ibusuri(太皇后) He Lingsi (何太后) dan He Jin. Namun para kasim istana lebih mendukung Liu Xie (劉協) [saudara tiri dari kaisar Shao] sebagai penerus tahta, sehingga terjadilah perseteruan antara para kasim istana dengan He Jin. 

Ketika itu He Jin mendapat dukungan dari Koalisi para jenderal yang dipimpin oleh Yuan Shao (袁绍). Mereka berencana untuk menyingkirkan dan mengakhiri dominasi para kasim istana dari pemerintahan pusat, tetapi rencana tersebut tidak disetujui oleh Ibusuri He. 

Karena lambatnya aksi Yuan Shao untuk menggerakan pasukan koalisi [yang telah siaga di batas luar ibukota], sehingga He Jin secara rahasia memanggil pasukan Dong Zhuo (董卓) dan pasukan Ding Yuan (丁原) untuk datang ke ibukota [kota Luoyang (洛陽)] dengan tujuan menyingkirkan para kasim istana serta pengikutnya. Namun rencana He Jin tersebut bocor, sehingga Para kasim mengambil langkah terlebih dahulu dengan menjebak dan membunuh He Jin. 


Kabar tewasnya He Jin akhirnya tersiar sampai keluar ibukota, dan memprovokasi pasukan koalisi untuk bergerak menuju ke ibukota, dan lalu melakukan pembantaian terhadap hampir seluruh pengikut para kasim istana. 

Dalam kondisi terdesak, para kasim istana berupaya melarikan diri dengan melakukan penyanderaan terhadap Kaisar Shao, Ibusuri He, dan Liu Xie. Pasukan koalisi yang melakukan pengejaran, berhasil melakukan pengepungan di tepi sungai kuning (“huang he” 黄河). Sebagai bentuk penolakan untuk menyerah,  pada akhirnya para kasim istana memilih mengakhiri hidup mereka dengan menghanyutkan diri ke sungai kuning 

Tak lama setelah Dong Zhuo dan pasukannya tiba di ibukota, Kaisar Shou dan Liu Xie berhasil ditemukan dengan selamat dan dikawal kembali menuju istana oleh pasukan Dong Zhuo.  Dong Zhuo melihat adanya peluang untuk berkuasa di tengah kondisi pemerintahan yang kacau, dimana pada akhirnya ia melakukan kudeta melengserkan tahta kaisar Shou. Setelah melantik Liu Xie sebagai kaisar yang baru dengan gelar kaisar Xian (獻帝), Dong Zhuo lalu mengukuhkan diri sebagai perdana menteri (丞相) pada akhir tahun 189.

Untuk memperkokoh kekuasaannya, Dong Zhuo mengambil alih kepemimpinan pasukan Ding Yuan, dan lalu menunjuk Lü Bu (呂布) sebagai ajudan sekaligus Jenderal (將軍).
Sebagai Perdana menteri, Dong Zhuo menjalankan roda pemerintahan secara tirani dengan menjadikan kaisar Xian sebagai “boneka” kekuasaannya. Kondisi tersebut menyebabkan jalannya roda pemerintahan menjadi sangat buruk dan tak terkendali, serta menyebabkan kondisi perekonomian yang sangat memperihatinkan, sehingga rakyat semakin menderita.

Hal tersebut memicu terbentuknya kembali koalisi para jenderal dan penguasa wilayah yang dipimpin oleh Yuan Shao untuk menentang kekuasaan Dong Zhuo pada awal tahun 190. Koalisi tersebut dikenal juga dengan nama koalisi Guandong. Sebagai respon terbentuknya koalisi Guandong, Dong Zhuo lalu melakukan agresi militer untuk mengakhiri keberadaan Pasukan koalisi tersebut. 


Pada tahun 191, karena terdesak oleh kepungan pasukan koalisi, pada akhirnya Dong Zhuo memindahkan pusat pemerintahan ke kota Chang’an (長安), dengan disertai pembakaran terhadap kota Luoyang dan penjarahan makam para raja. Peristiwa tersebut menyebabkan jatuh banyak korban jiwa rakyat sipil dan kerugian material yang tak terhitung jumlahnya.


Tak lama setelah Dong Zhuo memindahkan ibukota ke kota Chang’an, koalisi Guandong akhirnya terpecah dan bubar pada penghujung tahun 192. 

Hal tersebut terjadi karena simpang siur berita keberadaan dan keadaan Kaisar, sehingga para penguasa wilayah dan para jenderal memutuskan untuk menjadikan wilayah kekuasaan mereka sebagai pemerintahan yang otonom [terpisah dari pemerintahan pusat/ pemerintahan Han timur]. 
Kondisi semakin diperkeruh dengan perseteruan diantara mereka yang saling memperebutkan wilayah kekuasaan di tengah kelabilan pemerintah pusat/ pemerintahan resmi Han timur. 


Pada tahun 192, Wang Yun (王允) [salah seorang pejabat istana yang setia pada Kaisar] secara rahasia berkonspirasi dengan beberapa pejabat istana lain, berencana untuk menyingkirkan Dong Zhuo dengan menghadirkan konflik pribadi antara Dong Zhuo dengan Lü Bu. Pada akhirnya siasat dan konspirasi tersebut berhasil dengan tewasnya Dong Zhuo ditangan Lü Bu.

Tak lama setelah kematian Dong Zhuo, mantan pasukan Dong Zhuo yang dipimpin oleh empat jenderal [Li Jue (李傕), Guo Si (郭汜), Fan Chou (樊稠) dan Zhang Ji (張濟)] menyatakan penyerahan diri mereka. Namun Wang Yun menolak untuk memberikan pengampunan, sehingga mantan pasukan Dong Zhuo tersebut memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu terhadap kota Chang’an [ibukota] yang saat itu dipertahankan oleh Lü Bu. 
Pada akhirnya Ibukota berhasil diduduki oleh mantan pasukan Dong Zhuo setelah pertahanan ibukota jatuh karena Lü Bu berhasil diperdaya oleh jebakan/siasat Li Jue. Dalam peristiwa tersebut, Lü Bu dan pasukannya berhasil lolos dan meninggalkan ibukota, sedangkan Wang Yun serta seluruh anggota keluarganya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. 
Sejak keberhasilannya menduduki ibukota,  maka pemerintah pusat dikendalikan secara langsung oleh ke-empat Jenderal (yang dipimpin oleh Li Jue), dimana mereka menampatkan Kaisar Xian sebagai tahanan politik,.

Tak lama berselang, Ma Teng (馬騰) dan Han Sui (韓遂) sempat menyatakan kesetiaan dan tunduk kepada pemerintahan pusat. Namun mereka kembali memberontak dan memimpin penyerangan ke ibukota setelah mereka mendapat dukungan dari Liu Yan (劉焉) [gubernur propinsi Yi (益州牧)]. Pada akhirnya serangan tersebut dapat dipatahkan oleh pasukan pemerintah pusat yang dipimpin Guo Si, Fan Chou, dan Li Li (李利).  


Beberapa pejabat istana (yang setia pada Kaisar) kembali berkonspirasi untuk menciptakan perselisihan pribadi antara Li Jue dengan Guo Si, dimana perselisihan tersebut memuncak hingga berujung pada perseteruan antara kubu Li Jue dengan kubu Guo Si. Pada akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri perseteruan, dan Li Jue bersedia membebaskan kaisar Xian. 


Pada tahun 195, Kaisar Xian kembali  ke kota Luoyang dengan pengawalan dari sejumlah pejabat yang setia. Li Jue yang menyesal dengan keputusannya, sempat mengirim pasukan untuk melakukan pengejaran terhadap Kaisar, namun upaya tersebut gagal.

Dalam kondisi yang memperihatinkan, pada akhirnya Kaisar Xian bersedia menerima tawaran perlindungan dari Cao Cao (曹操) pada tahun 196. Tak lama kemudian, Kaisar meninggalkan kota Luoyang dan menetap di kota Xuchang (許昌) [merupakan basis kekuatan Cao Cao]. Sejak saat itu kota Xuchang resmi sebagai ibukota yang baru.

Cao Cao yang ambisius kekuasaan, akhirnya berhasil mengendalikan jalannya roda pemerintah pusat dengan menjadikan Kaisar Xian sebagai boneka kekuasaannya. Pada saat yang sama, Yuan Shao (袁绍) berhasil tampil sebagai Panglima /penguasa wilayah terunggul di utara Tiongkok setelah berhasil menyingkirkan Han Fu (韓馥), dan menaklukkan Gongsun Zan (公孙瓒).

Pada saat yang sama, Cao Cao berhasil mendesak Kaisar Xian untuk menunjuk dirinya sebagai panglima besar(大將軍) dan gelar bangsawan Wuping (武平侯), serta pengemban amanat resmi untuk menggelar kampanye penyatuan kembali seluruh wilayah Tiongkok yang terpisah.

Melalui agresi militer, pada akhirnya Cao Cao berhasil menaklukkan Zhang Xiu (張繡), Lü Bu (呂布), Yuan Shu (袁术), dan kemudian Liu Bei (劉備), serta mendesak Ma Teng (馬騰) dan Han Sui (韓遂) untuk mematuhi perjanjian damai dan tunduk setia kepada pemerintah pusat. Pada saat yang sama, berlangsung perang dingin antara Cao Cao dengan Yuan Shao hingga mencapai titik puncaknya dalam pertempuran di daerah Guandu (官渡). 

Pada tahun 200, akhirnya Cao Cao berhasil menundukkan Yuan Shao dalam pertempuran Guandu (官渡之戰). Beberapa tahun kemudian, Cao Cao berhasil menundukkan seluruh kekuatan klan Yuan dalam pertempuran di gunung Bai Lang (the battle of white wolf mountain白狼山之战)pada tahun 207. Sejak saat itu, Cao Cao resmi dinobatkan sebagai Perdana menteri (丞相), dan berhasil menduduki sebagian besar wilayah utara Tiongkok.

Pada tahun 208, Cao Cao kembali menggelar kampanye militer terbesar dengan membidik wilayah selatan Tiongkok [meliputi seluruh wilayah propinsi Jing (荆州) dan seluruh wilayah Jiangdong (江东)], namun karena persiapan yang kurang serta kondisi medan perang yang kurang menguntungkan, sehingga Cao Cao harus mengalami kekalahan telak dari koalisi pasukan Sun Quan (孫權) dan Liu Bei (劉備) dalam pertempuran Chibi (赤壁之战), dan berlanjut di pertempuran Jiangling (江陵之战).


Sejak kekalahan Cao Cao dalam dua pertempuran tersebut, merupakan titik awal keseimbangan kekuatan politik antara Cao Cao dengan Sun Quan dan Liu Bei hingga pada akhirnya terbentuk tiga pemerintahan terdominan pada saat itu. 


Masa pemerintahan Han timur resmi berakhir pada tahun 220 setelah Cao Pi (曹丕) [salah seorang putera, dan juga penerus kekuasaan Cao Cao] melakukan kudeta terhadap Kaisar Xian, dan lalu mendirikan negara Cao-Wei (曹魏), dengan pusat pemerintahan di kota Luoyang (洛陽). 
Tak lama berselang, Liu Bei juga mendirikan negara Shu-Han (蜀漢), yang pusat pemerintahan di kota Chengdu (成都) pada tahun 221, lalu kemudian menyusul berdirinya negara Dong-Wu (東吳) oleh Sun Quan (孫權) pada tahun 222, dengan pusat pemerintahan di kota Jianye (建業).


--000--

Disusun dan diterjemahkan kembali oleh Agust DZ
Sumber: Wikipedia


Komentar

  1. Pada masa kini, dunia marketing dan manajemen mengenal istilah "life circle" yang dapat disematkan pada perusahaan ataupun suatu produk yang berarti: masa waktu (dimulai dari masa growth, mature, hingga masa decline).
    Misi dan visi dari sebuah perusahaan, pada dasarnya adalah sama, yakni bagaimana mencapai masa "mature", lalu dipertahankan selama mungkin agar jangan masuk pada masa "decline".
    Lamanya sebuah perusahaan mempertahankan life circle usaha maupun produknya dapatlah dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor "kepemilikkan" atau Ownership.

    Sama halnya dengan kisah singkat pada blog ini, bahwa dengan menjadi seorang yang memiliki "kepemilikkan" yang baik, tentu akan menghasilkan life circle yang panjang.
    Kepemilikkan yg baik tidaklah hanya karena memiliki asset dan harta yg bernilai banyak bagi sebuah perusahaan, melainkan yang terpenting adalah "kebijaksanaan" (Wisdom).

    By: Agust DZ

    BalasHapus

Posting Komentar